Ini Alasan YMPS Adukan Pelanggaran HAM Berat oleh PKI 1948-1965

JAKARTA — Pengurus Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah (YMPS) yang terdiri dari Kyai Haji Sholahudin Wahid (Ketua Dewan Pembina YMPS dan Pimpinan Pesantren Tebu Ireng), Abdul Latief (Ketua Umum YMPS), Arukat Djaswadi (Ketua Dewan Pengawas), Taufiq Ismail, serta puluhan unsur masyarakat yang menjadi korban kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI).

YMPS mengadukan pelanggaran HAM berat oleh PKI kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Inilah alasan-alasanya.

“Kami Para Advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah (YMPS) mengajukan aduan kepada Komnas HAM, “ kata Dr. Sulistyowati, S.H., M.H kepada Cendana News di Ruang Asmara Nababan, Gedung Komnas HAM, Jl. Latuharhari No.4B, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.

Lebih lanjut, Sulistyowati menyampaikan berbagai alasannya yang mendasari YMPS mengadukan pelanggaran HAM berat oleh PKI pada 1948-1965, seperti di antaranya, bahwa PKI pada 1948 sebagaimana telah dikemukakan oleh berbagai pihak dan disebutkan di dalam sejarah.

“PKI telah melakukan perebutan kekuasaan negara dengan memproklamirkan Negara Republik Soviet Indonesia oleh Moeso di Madiun, pada tanggal 18 September 1948, yang didukung dengan pemberontakan dan pembantaian di Jawa Timur, “ ungkapnya.

Menurut Sulistyowati, pemberontakan yang dilakukan oleh PKI tersebut dengan cara melakukan pembunuhan, penjagalan dan pembantaian terhadap berbagai lapisan masyarakat di Madiun dan sekitarnya.

“Mayat-mayatnya dimasukkan ke dalam sumur tua yang ada di tengah perkebunan tebu Rejosari, kecamatan Magetan, kabupaten Madiun, “ paparnya penuh kegeraman.

Sulistyowati membeberkan bukti sejarah atas pemberontakan dan pembantaian PKI di Madiun tersebut, beberapa tahun setelah pembantaian yang sadis dan bengis oleh PKI tersebut di sumur tua di tengah kebun tersebut.

“Kemudian, didirkan Tugu atau Monumen yang merupakan peringatan dan bukti sejarah atas kekejaman PKI terhadap rakyat dan bangsa Indonesia. Padahal umur Negara Kesatuan Republik Indonesia masih sangat muda, baru berusia tiga tahun, “ tegasnya.

Setiap tahun, khususnya para keluarga korban pembantaian dan juga masyarakat, pada September dan awal Oktober setiap tahunnya.

“Mereka melakukan tabur bunga, berdoa dan bahkan melakukan tahlilan di sumur tua Rejosari yang ditandai dengan tugu monumen pembantaian dan pengkhianatan PKI yang dikenal dengan Monumen Kesaktian Pancasila, untuk mendoakan para korban yang dibantai oleh PKI, “ ujarnya.

“Mengenai korban-korban yang dimasukkan ke dalam sumur di tengah kebun tebu tersebut, menurut orang tua dan sesepuh setempat terdapat bupati, wedana, jaksa, kiai, haji, pegawai dan lain-lain. Tepatnya mengenai nama-nama korban bisa dibaca di tembok monumen tersebut, “ urainya.

Masih banyak lagi alasan-alasan lainnya berjilid-jilid yang berdatangan, sampai Sulistyowati mengetik berkas aduan hingga jam tiga pagi untuk disampaikan ke Komnas HAM jam delapan pagi.

“Itu pun masih banyak lagi laporan dari masyarakat yang berdatangan begitu sangat banyak karena memang saking banyaknya pelanggaran HAM berat yang dilakukan PKI, “ tandasnya.

Beberapa Pejabat Komisioner dari Komnas HAM menerima dengan positif pengaduan Para Advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah. Komnas HAM berjanji akan memproses secepatnya.

Tim Advokasi dan Pengurus YMPS menyerahkan berkas aduan pada Komnas HAM -Foto Akhmad Sekhu.
Lihat juga...