Iran Hukum Mati Akademisi karena Tuduhan Spionase

DUBAI – Mahkamah Agung Iran menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang akademisi Iran karena bertindak sebagai mata-mata untuk Israel. Terpidana tersebut adalah Ahmadreza Djalali, seorang dokter medis dan dosen di Institut Karolinska, sebuah universitas kedokteran di Stockholm, Swedia.

Djalali dituduh memberikan informasi kepada Israel untuk membantunya membunuh beberapa ilmuwan nuklir senior. Djalali ditangkap di Iran pada April 2016 dan kemudian divonis melakukan spionase. Sementara Amnesti Internasional menyebut Djalali telah membantah tuduhan tersebut.

Setidaknya empat ilmuwan terbunuh antara 2010 dan 2012 dalam apa yang dikatakan Teheran sebagai pembunuhan untuk menyabotase upayanya mengembangkan energi nuklir. Iran menggantung seorang pria pada 2012 atas pembunuhan tersebut, dengan mengatakan bahwa dia adalah agen intelijen Israel Mossad.

Pada Senin (25/12/2017), jaksa Teheran Abbas Jafari Dolatabadi mengatakan, Mahkamah Agung baru-baru ini telah menegakkan hukuman mati terhadap Djalali. Terpidana Djalali telah mengaku bertemu dengan agen Mossad berulang kali untuk menyampaikan informasi mengenai rencana dan personil nuklir Iran.

“Djalali juga mengaku telah membantu menginfeksi sistem komputer Kementerian Pertahanan dengan virus,” jelasnya.

Amnesti Internasional dan istri Djalali yang berada di London pada awal bulan ini mengatakan, pengacaranya diberitahu bahwa Mahkamah Agung telah mempertimbangkan kasusnya dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Sementara siaran televisi negara Iran minggu lalu menyiarkan apa yang digambarkannya sebagai pengakuan Djalali. Sementara istrinya menyebut, bahwa Djalali dipaksa oleh penginterogasinya untuk membaca pengakuan tersebut.

Djalali sedang dalam perjalanan bisnis ke Iran saat dia ditangkap dan dikirim ke penjara Evin. Amnesti Internasional menyebut, Djalali ditahan di sel isolasi selama tiga bulan dan selama ditahan mengalami siksaan.

Swedia mengutuk hukuman tersebut dan mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan masalah tersebut dengan utusan Iran. Tujuh puluh lima penerima hadiah Nobel mengajukan petisi kepada otoritas Iran bulan lalu untuk membebaskan Djalali agar bisa melanjutkan pekerjaan ilmiahnya demi manfaat umat manusia. (Ant)

Lihat juga...