Jelang Akhir Tahun, Pengiriman Hasil Bahan Hewan, Naik Turun

LAMPUNG – Lalu lintas bahan hewan dan produknya melalui Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandar Lampung Wilayah Kerja Bakauheni mengalami pasang surut sejak September hingga November.

Demikian diungkapkan oleh Purwanto, S.Sos., Admin pencatat laporan hasil bahan hewan dan produknya, saat mendampingi Drh. Azhar, selaku penanggungjawab BKP Lampung Wilker Bakauheni. Penghitungan tersebut dilakukan selama tiga bulan terakhir jelang akhir tahun.

Purwanto, Admin pencatat laporan hasil bahan hewan dan produknya di Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung Wilker Bakauheni. [Foto: Henk Widi]
Purwanto menyebut, komoditas hasil bahan hewan dan produknya tersebut dicatat sebelum dilalulintaskan oleh kendaraan ekspedisi sebagai alat angkut sekaligus melengkapi sertifikat kesehatan hewan dan membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesua Nomor 35 Tahun 2016 tanggal 12 Agustus 2016, sekaligus melaporkan komoditas yang akan dilalulintaskan ke kantor karantina di Jalan Lintas Sumatera Desa Hatta dan Jalan Lintas Timur.

Selain itu, perlalulintasan yang dicatat dan dilaporkan ke karantina terhadap semua jenis komoditas hewan sesuai UU No. 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan.

“Berdasarkan catatan kami, terjadi pasang turun pengiriman komoditas hasil bahan hewan dan produknya terutama kebutuhan jenis unggas dan produknya hingga jenis bibit ayam, baik petelur maupun pedaging,” terang Purwanto, Jumat (8/12/2017)

Purwanto menyebut, jenis komoditas yang dilalulintaskan dari Pulau Sumatera, di antaranya berasal dari wilayah Palembang Sumatera Selatan, Padang Sumatera Barat dan Medan Sumatera Utara. Selain itu, juga berasal dari Pulau Jawa, seperti dari Jawa Tengah dan Jawa Barat, tujuan beberapa kota di Pulau Sumatera.

Beberapa komoditas hasil hewan dan produknya yang dilalulintaskan tersebut di antaranya telur ayam konsumsi, ayam pedaging kondisi hidup, daging ayam beku dan jenis Day Old Chicken (DOC) atau ayam dengan umur di bawah 10 hari.

Perlalulintasan hasil bahan hewan dan produknya tersebut dilalulintaskan melalui dua jalur penyeberangan di Bakauheni Lampung Selatan, yakni Pelabuhan Penyeberangan PT. Bandar Bakau Jaya (BBJ) dan PT.ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni, dengan pemeriksaan dari petugas karantina terkait dokumen yang harus dilengkapi

Menurut Purwanto, berdasarkan data sejak September hingga November 2017 terjadi pasang surut atau naik turun jumlah hasil bahan hewan dan produknya yang dikirim menggunakan kendaraan ekspedisi.

“Berdasarkan penuturan pelaku bisnis ekspedisi pengiriman komoditas hasil hewan dan produknya tersebut dikirim berdasarkan faktor musim, harga dan permintaan, sehingga pada bulan tertentu mengalami peningkatan, sebaliknya di bulan lain bisa mengalami penurunan, terutama untuk unggas dan produknya,” jelas Purwanto.

Purwanto juga menuturkan, untuk jenis telur ayam konsumsi atau dari hasil peternakan ayam petelur dominan dikirim dari wilayah Padang, Palembang dan Medan.

Dalam catatan Karantina Pertanian, pada bulan September jumlah telur yang dikirim mencapai 876.676 kilogram dengan jumlah alat angkut mencapai 347 unit, dan terus meningkat pada Oktober sebesar 3.547.501 kilogram dengan alat angkut sebanyak 555 unit dan pada November sebanyak 4.530.406 kilogram dengan alat angkut sebanyak 685 unit.

“Kenaikan setiap bulan terlihat dengan permintaan untuk stok pasar ke daerah pengiriman pada bulan Desember, sementara data untuk bulan Desember masih berjalan, sehingga belum bisa ditampilkan. Nanti akhir bulan baru bisa direkap datanya,” kata Purwanto.

Permintaan akan telur ayam konsumsi diakuinya mengikuti tren permintaan pasar, meski demikian pengaruh harga juga menjadi pemicu jumlah pengiriman bahkan dengan selisih harga Rp100 hingga Rp500 per kilogram, pengusaha peternakan akan memutuskan untuk mengirim atau menunda pengiriman komoditas telur tersebut.

Selain itu pengiriman pada akhir November yang meningkat terjadi akibat faktor kebutuhan dan stok untuk bulan Desember dalam pembuatan kue konsumsi untuk Natal dan tahun baru sesuai tren tahun sebelumnya terjadi tingkat konsumsi yang tinggi.

Selain telur konsumsi, komoditas lain juga mengalami pasang surut, di antaranya jenis ayam pedaging hidup pada September, yang  dikirim dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa sebanyak 60.854 ekor, dengan alat angkut sebanyak 122 unit.

Pada Oktober, ayam pedaging yang dikirim sebanyak 1.775.864 ekor dengan jumlah alat angkut 1.042 unit, dan pada November jumlah ayam pedaging yang dilalulintaskan sebanyak 53.448 ekor dengan jumlah alat angkut sebanyak 925 unit.

Selain ayam pedaging dalam kondisi hidup jenis ayam pedaging dalam kondisi beku dan dikirim menggunakan alat pendingin (cold storage) juga dilalulintaskan melalui Karantina pada September berjumlah 186.136 kilogram dengan alat angkut sebanyak 33 unit. Pada Oktober sebanyak 130.523 kilogram dengan alat angkut 20 unit dan pada November sebanyak 221.999 kilogram menggunakan sebanyak 29 unit alat angkut.

Selain itu  jenis Day Old Chicken (DOC) yang merupakan ayam umur 10 hari yang dikirim pada bulan September mencapai 654.242 ekor dengan 40 unit alat angkut, Oktober sebanyak 226.039 ekor dengan alat angkut 15 unit dan November tercatat DOC yang dikirim sebanyak 558.290 ekor dengan alat angkut 34 unit.

“Terkait tinggi rendahnya jumlah pengiriman dan alat angkut, tentunya berkaitan dengan tren permintaan yang diketahui oleh pelaku bisnis peternakan, dan tugas kami karantina hanya mencatat lalulintasnya sekaligus keabsahan dokumen,” tegas Purwanto.

Salah satu pengurus jasa ekspedisi dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Bakauheni, Defi, menyebut dari sekitar 50 kendaraan ekspedisi yang diurusnya sebagai bagian dari pengurus jasa penyeberangan, beberapa di antaranya merupakan kendaraan ekspedisi hasil hewan dan produknya mulai dari telur konsumsi, ayam pedaging, ayam beku dan DOC.

Namun, sesuai dengan permintaan pasar kerap terjadi pasang surut pengiriman jenis komoditas tersebut. “Karenanya, kami tidak terpaku pada komoditas pertanian, sehingga kendaraan ekspedisi yang kami urus untuk diseberangkan dari jenis truk sembako dan nonsembako, sebab jika hanya mengandalkan alat angkut komoditas pertanian, kami tidak memperoleh uang jasa banyak, apalagi saat pengiriman sepi,” beber Defi.

Ia menyebut, pasang surut pengiriman komoditas pertanian yang berhubungan dengan Karantina Pertanian cukup wajar, karena sebagian merupakan barang konsumsi. Selain itu permintaan pasang surut, juga berkaitan dengan musim, permintaan dan harga, sehingga setiap bulan jumlahnya bisa berubah sewaktu-waktu, terutama menjelang hari besar keagamaan dan pergantian tahun.

Meski demikian penyedia jasa ekspedisi tetap memiliki sumber penghasilan dengan menyeberangkan kendaraan lain pengangkut barang keperluan pabrik serta barang nonsembako lain untuk diseberangkan dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa.

Lihat juga...