Jembatan Darurat, Topang Mobilitas Warga Sukabaru

Editor: Satmoko

178
Eko, pengendara kendaraan roda dua yang melintas di jembatan darurat Sungai Way Pisang setelah tiga bulan berjalan memutar. [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG – Proses pembangunan jembatan beton yang melintas di Sungai Way Pisang Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan yang dimulai sejak bulan September sempat mengakibatkan warga yang akan melakukan mobilitas dari RW IV harus memutar menggunakan jalan yang lebih jauh.

Meski demikian sebagian warga yang akan melakukan aktivitas ke kebun, sawah serta para siswa sekolah terpaksa harus mau menyeberangi sungai bahkan sebelum jembatan sementara dibuat.

Yanto, selaku kepala tukang pengerjaan jembatan sementara menyebut, jembatan tersebut baru dibuat pada awal Desember menunggu proses penyelesaian penopang jembatan dan pembuatan talud. Meski sementara jembatan dibuat menggunakan lantai terbuat dari konstruksi anyaman bambu tali, besi serta rangkaian kawat sebagai dinding atau pagar sasak tersebut sudah bisa dipergunakan sebagai jembatan untuk mobilitas warga.

Yanto, melakukan penguatan dinding jembatan terbuat dari anyaman kawat di atas jembatan darurat. [Foto: Henk Widi]
Sebelum proses pembuatan jembatan sementara terbuat dari bambu, besi dan kawat tersebut, warga selama hampir tiga bulan harus memutar arah dan menyeberang sungai saat sungai tidak sedang banjir.

“Harapan warga sebelum jembatan permanen terbuat dari beton, harus ada jembatan sementara yang bisa dipergunakan untuk mobilitas warga. Sepekan ini sudah kami realisasikan meski dengan catatan pengguna kendaraan roda dua tidak membawa beban yang berat,“ beber Yanto saat ditemui Cendana News tengah memperkuat dinding kawat pelindung jembatan sementara di atas Sungai Way Pisang dusun Buring desa Sukabaru kecamatan Penengahan, Rabu (6/11/2017).

Warga yang melintas diakuinya sebagian sudah terbiasa melintas di atas jembatan tersebut yang sebelumnya juga terbuat dari konstruksi kayu, tali sling baja dan bambu serta pelindung pagar kawat selama bertahun-tahun dengan panjang lebih kurang sekitar 25 meter.

Eko (36) salah satu warga penanam cabai yang merupakan warga dusun Buring desa Sukabaru menyebut, hampir selama tiga bulan dirinya yang memiliki lahan pertanian cabai harus berjalan memutar menggunakan kendaraan roda dua.

Namun saat ini pasca jembatan sementara dibuat dari bambu dan kawat, dirinya mulai menggunakan jembatan sementara tersebut. Selain mempersingkat waktu tempuh pada masa panen cabai merah, dirinya bisa melakukan distribusi cabai merah tanpa harus memutar menggunakan jalan yang jauh.

“Sekarang sudah bisa melintas menggunakan jembatan sementara. Meski harapan kami jembatan beton permanen segera dibangun sehingga pengguna kendaraan roda empat
bisa melintas memudahkan transportasi barang dan orang, meski harus menunggu lama,” terang Eko.

Usulan terkait proses pembuatan jembatan permanen untuk memudahkan transportasi barang dan orang tersebut, diakui oleh Eko, sudah puluhan tahun dilakukan dan pembangunan dasar penopang jembatan baru terealisasi tahun 2017.

Keberadaan jembatan gantung yang pernah berpindah di dua lokasi, selain kondisinya sudah memprihatinkan dan kerap dilintasi masyarakat terutama anak-anak sekolah dari TK hingga SMA kerap membahayakan. Maka harapan akan jembatan permanen terus diinginkan warga meski proses pembangunan dilakukan secara bertahap.

Berdasarkan pantauan Cendana News dari papan informasi yang berada di ujung jembatan pembangunan jembatan beton yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang itu dikerjakan oleh PT.Queen Natasya Mandiri bernilai kontrak Rp1.196.430.000 dengan waktu pengerjaan sekitar 110 hari kalender pada tahun anggaran 2017.

Dibuat dengan tahap pembuatan dasar jembatan, talud dan saluran air. Namun pembangunan jembatan permanen, diakui beberapa pekerja, baru akan dilakukan pada tahun 2018 mendatang.

Jembatan gantung darurat dipergunakan membantu mobilitas warga. [Foto: Henk Widi]

Komentar