Junaidi, Sopir Bus Metromini Bertahan dari Gempuran Zaman

JAKARTA —Transportasi umum di Jakarta mengalami perubahan yang sangat berarti. Busway Transjakarta kini memang menjadi idola baru bus di Jakarta yang mempunyai jalur khusus bus.

Meski demikian, bus Metromini dengan warna khas merah-oranye dan biru dengan garis putih ditengahnya, tampaknya masih tetap bertahan dan beroperasi.

Junaidi, salah seorang sopir bus Metromini yang masih tetap bertahan menjaga eksistensinya dari gempuran zaman. Ia tampak ulet dan begitu rajin dalam merawat mesin bus yang melayani trayek Pasar Minggu–Manggarai.

Koplingnya kini tinggal kerangkanya saja tanpa ada selongsong, tapi mesin tetap berfungsi dengan baik karena ia rawat dengan baik.

“Bus ini bisa tetap beroperasi dengan baik karena saya rajin merawat bus ini sejak pegang bus ini sekitar tahun 1994-an, “ ungkap Junaidi kepada Cendana News beberapa waktu yang lalu  dengan tetap konsentrasi mengendarai bus yang melaju dengan tenang.

Lebih lanjut, lelaki asal Padang yang sudah lama merantau ke Jakarta itu menerangkan, bahwa bus yang dikendarainya sudah ia beli. “Bus ini sudah saya beli 57 juta pada 1994,” terangnya.

“Alhamdulillah, sudah balik modal, “ tuturnya penuh rasa syukur.

“Dulu saya membelinya dari orang Jawa yang tampaknya sudah tak mau terjun ke bisnis transportasi, “ paparnya.

Junaidi punya prinsip untuk tetap menjadi bus Metromini miliknya dengan baik sampai sekarang. “Kita bukan mengajari bus, tapi bus yang mengajari kita, bagaimana kita harus rajin merawatnya sebaik mungkin, “ ucapnya mantap.

Bus milik sendiri karena diparkir di rumah sendiri menjadi saksi Junaidi dalam membesarkan anak-anaknya. “Bus ini menjadi saksi saya yang alhamdulillah bisa membesarkan anak-anak saya yang sekarang sudah mandiri,” ungkapnya bangga.

Awal Metromini

Sejarah mencatat, Metromini diperkenalkan pertama kali pada 1962 oleh Gubernur Soemarno di Jakarta atas instruksi Presiden Sukarno. Tujuan awal dioperasikannya bus adalah untuk kebutuhan transportasi peserta Pesta Olahraga Negara Negara Berkembang atau Games of the New Emerging Forces(GANEFO).

Saat itu di Jakarta, moda transportasi massal baru beralih dari kereta listrik (trem) dengan bus yang dioperasikan oleh Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD). Trem dihentikan pada 1960.

Bus pertama yang dioperasikan PPD adalah bus Leyland bantuan Australia pada 1956. Selain bus PPD, Jakarta memiliki oplet sebagai angkutan umum.

Pada awal operasionalnya belum ada manajemen yang dibentuk untuk mengelola bus-bus tersebut, dan MetroMini dikenal dengan sebutan “bus merah”.

Setelah pesta olahraga usai bus-bus merah ini tetap beroperasi dan oleh Gubernur Henk Ngantung di tahun 1964, dititipkan pada perusahaan swasta seperti Arion namun tak mampu dikelola dengan baik.

Pada 1976 PT Metromini didirikan bersamaan dengan Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) untuk menaungi 152 orang yang mengoperasikan 313 bus mini atas instruksi Gubernur Ali Sadikin.

Menurut Mal Siantar Nainggolan, salah satu komisaris perusahaan PT Metromini di tahun 1976, bentuk bus awal pada 1962 adalah seperti roti tawar dengan gembung dibagian moncong depannya.

Jenis bus ini (1962) adalah Bus Robur buatan Jerman Timur dan mengisi trayek trayek kosong yang tidak ada bus dikarenakan dihentikannya trem.

Setelah PT Metromini dan Kopaja diresmikan pada 1978 oleh Gubernur Tjokropranolo sebagai pengelola bus mini, armadanya diremajakan. Mulailah bus robur diganti dengan bus-bus Mitsubishi buatan Jepang. Pada 1990, Metromini menguasai 60 trayek di Jakarta dengan 3.000 armada bus.

Sejak 1993 mulai terjadi permasalahan internal, akibatnya terasa pada 2016 pada buruknya pelayanan operasional MetroMini. Dari 60 trayek hanya separuh yang masih aktif. Jumlah armada menyusut menjadi 1.000 bus dari sebelumnya tiga ribu armada.

Meski demikian Metromini tetap bertahan sampai sekarang. Kita tentu patut memberi apresia pada sopir bus seperti Junaidi ini yang bisa menjadi teladan karena mampu merawat mesin bus dengan baik sehingga bus tetap terawat dengan baik

Lihat juga...