Kades Karangpatihan Bantu Warga Tunagrahita Ternak Kambing

PONOROGO – Kepala Desa Karangpatihan, Eko Mulyadi, melakukan pemberdayaan ekonomi bagi warga miskin dan tunagrahita dengan cara memberikan beberapa jenis hewan untuk dipelihara dan dijual saat dibutuhkan. Salah satunya adalah ternak kambing.

Pasalnya, di desa yang ia pimpin ada 98 jiwa warga tunagrahita. Desa Karangpatihan memang dikenal sebagai kampung idiot.

Memang, di kampung tersebut tidak hanya diajari ternak kambing. Beternak kambing hanya salah satu bentuk pemberdayaan. Secara umum, ada empat konsep sistem pendapatan yang ditawarkan, pertama pendapatan harian, kedua pendapatan bulanan, ketiga pendapatan triwulan dan pendapatan tahunan.

“Pendapatan harian dengan cara membina warga untuk mengembangkan kerajinan keset dari kain perca, agar ada pendapatan saat setor,” jelasnya kepada Cendana News, Senin (4/12/2017).

Tidak hanya keset, warga juga diajari membuat tasbih, anyaman bambu dan batik ciprat, lanjutnya, dengan harapan masyarakat setiap hari bisa memproduksi barang-barang tersebut, lalu disetor ke rumah harapan, nanti warga langsung dapat upah setiap hari saat setor.

“Kedua, pendapatan bulanan dengan cara memberikan bantuan 10 ekor induk ayam kampung dengan harapan bisa dipelihara dan berkembang biak sehingga setiap bulan bisa menjual ayam untuk kebutuhan hidup,” ujarnya.

Adapula, pendapatan triwulan, warga miskin dan tunagrahita dilatih serta diberikan bantuan kolam, benih serta pakan ikan lele. “Setiap tiga bulan sekali, kolam bisa dipanen,” tuturnya.

Terakhir ada pendapatan tahunan, melatih dan memberikan bantuan bibit kambing sehingga warga bisa beternak kambing. “Tiap tahun bisa menjual kambing yang diternakkan,” cakapnya.

Empat konsep tersebut, sudah dilakukan di Desa Karangpatihan sejak tahun 2013 lalu. Namun karena mayoritas warga yang diberikan bantuan adalah warga miskin dan tunagrahita ada beberapa kendala yang harus dihadapi. “Karena tunagrahita mayoritas bisu dan tuli, masalah utama adalah komunikasi,” terangnya.

Masalah lain yang menghadang adalah terbatasnya anggaran. Beruntung, berbagai masalah tersebut kini mulai menemui jalan keluar. Untuk masalah komunikasi, sudah diatasi dengan menggunakan bahasa isyarat. Serta pelatihan beternak dengan cara praktek langsung.

“Sedangkan untuk masalah dana, kita mengajukan proposal ke pemerintah, CSR, dan lain-lain,” imbuhnya.

Saat ini bantuan kambing sudah mencakup hampir 150 KK. Beruntung dengan sistem pendampingan dari kader-kader, keberhasilan ternak kambing mencapai 90%, sedangkan lele mencapai 40% dan ayam sebanyak 60%.

“Pendampingan kami lakukan terus, agar ternak warga berjalan lancar,” pungkasnya

Lihat juga...