Kampung Bandar Agung jadi Sentra Komoditas Cabai

67

LAMPUNG TENGAH – Bupati Lampung Tengah, Mustafa, mencanangkan Kampung Bandar Agung, Kecamatan Terusan Nunyai, sebagai sentra penghasil cabai lado untuk mewujudkan program ‘one zone one product’ atau satu daerah satu komoditas.

“Kampung Bandar Agung ini dicanangkan jadi sentra cabai. Cabai yang ditanam juga variannya berbeda, yakni cabai lado, lebih tahan panas dan tahan hama,” kata Bupati, saat meninjau perkebunan cabai lado di kampung Bandar Agung.

Diharapkan, upaya ini mampu menigkatkan kesejahteraan petani. “Mudah-mudahan dengan varian lado ini, panen cabai bisa lebih melimpah dan kesejahteraan petani juga meningkat,” katanya.

Ia menjelaskan, pembagian zona produk pertanian telah dilakukan di beberapa kampung di Lampung Tengah disesuaikan dengan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki.

Program ‘one zone one product’ merupakan salah satu upaya pemerintah menjaga stabilitas harga komoditas pertanian. Pengalaman anjloknya harga singkong beberapa bulan lalu, perlu dicari solusi untuk mencegah inflasi di sektor pertanian.

Terkait pemasaran, menurut Bupati, petani tak perlu khawatir karena jangkauannya tidak hanya pasar lokal, tapi juga nasional. Begitu juga dengan harga, saat ini harga cabai untuk varietas lado mencapai Rp30 ribu per kilogram. Harga ini tertinggi dibandingkan varietas lainnya.

Saat ini, produksi cabai mengalami surplus. Pada 2017, produksi cabai di Lampung Tengah 3.408,1 ton, sementara kebutuhan lokal 2.061,7 ton, sisanya dijual ke luar daerah, seperti Jakarta dan Sumatera Barat. “Untuk pemasaran tidak ada kendala,” ujarnya.

Menurut dia, program ‘one zone one product’ juga telah diterapkan di beberapa daerah di Lampung Tengah agar bisa menghasilkan komoditas unggulan. Seperti Kota Gajah dengan bawang merahnya, Punggur dengan komoditas nanas, Gunung Batin dengan pisang raja bulu, Indra Putra Subing dengan komoditas jamur dan lainnya dengan komoditas yang berbeda-beda.

Mustafa juga mengajak para petani, agar lebih kreatif dalam mengembangkan tanamannya. Tidak hanya fokus menanam singkong, padi, tebu, tapi juga tanaman lainnya yang punya nilai ekonomis tinggi.

“Mulai sekarang, kita harus mengubah pola tanam pertanian. Jangan hanya terpaku pada singkong, padi dan tebu. Tanam jenis varian-varian baru yang nilai jualnya tak kalah menjanjikan, seperti jengkol, petai, bawang, jahe dan lainnya. Dengan ini hasil tanaman kita lebih variatif, harga juga stabil,” katanya.

Untuk menunjang pemasaran dan akses pemasaran, Mustafa juga berjanji membangun jalan di Kampung Bandar Agung. Kondisi jalan yang masih tanah merah, diakui petani menjadi salah satu kendala dalam mengangkut hasil bumi mereka.

“Soal jalan akan kita selesaikan. Insya Allah segera dibangun sehingga mobilitas warga lebih mudah, khususnya para petani, mereka lebih mudah mengangkut hasil panen. Insya Allah tiga kilometer jalan yang akan dibangun. Mohon doanya,” kata Bupati, yang pada acara itu juga menyerahkan sejumlah bantuan alat pertanian kepada kelompok petani setempat.

Sementara itu, Banu, seorang petani menjelaskan, cabai lado memiliki beberapa keunggulan dibanding jenis lainnya. Selain harga bibit lebih murah, cabai lado lebih tahan dari hama dan cuaca panas.

“Buahnya juga lebat. Dua hektare lahan bisa menghasilkan 7-8 kuintal per hari. Tanaman juga bisa bertahan sampai lima bulan. Hasil panen telah dipasarkan di pasar lokal di Bandar Agung dan Kota Metro,” katanya. (Ant)

Komentar