Kampung Djanti Padhepokan Kenalkan Budaya dan Seni Tradisional

MALANG — Dilatarbelakangi keprihatinan semakin menurunnya kepedulian generasi muda terhadap seni dan kebudayaan tradisonal Indonesia, membuat seorang pengamat budaya Yongki Irawan, berinisiatif mengadakan Festival ‘Kampung Djanti Padhepokan’ untuk pertama kalinya di Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Yongki menjelaskan, kampung Djanti adalah kampung yang kecil dan juga diapit oleh real estate.

“Namun kami harus berusaha tetap eksis dan menunjukkan kepada dunia bahwa masyarakat kami punya potensi,” jelasnya.

Lebih lanjut Yongki menyampaikan kegiatan tersebut sengaja digelar untuk memberikan edukasi kepada masyarakat utamanya para generasi muda mengenai ragam budaya dan seni di Indonesia. Selain itu juga untuk membentuk karakter harus dilakukan sejak dini.

“Kegiatan ini sifatnya memang edukasi seni budaya karena bagaimanapun juga kami bertanggung jawab atas generasi muda saat ini,”jelasnya.

Dikatakan Yongki dalam kegiatan tersebut ditampilkan berbagai jenis kesenian dan kebudayaan Indonesia. Tidak hanya itu, para pengunjung juga bisa belajar sekaligus berlatih cetak topeng kertas, menari, membatik, anyam bambu dan cukit pakaian carnival.

“Disini kami tidak berbicara kampung wisata tetapi kampung edukasi. Kalau kampung wisata orang akan datang hanya untuk jalan-jalan, foto dan membeli cinderamata setelah itu pulang. Tapi kalau kampung edukasi, masyarakat yang datang kesini bisa belajar secara langsung mengenai kerajinan, kesenian maupun budaya yang ada,” ungkapnya.

Penampilan grup patrol/Foto: Agus Nurchaliq

Yongki menambahkan bahwasannya dalam festival Kampung Djanti tersebut juga menampilkan permainan tradisional guna mengingatkan kembali kepada masyarakat sekaligus mengenalkan permainan tradisional kepada generasi muda.

“Jangankan membuat permainan tradisional, mengenal jenis permainan tradisional saja mereka tidak tahu. Dulu waktu saya kecil diajari membuat mainan tradisional, tetapi sekarang tidak, itu yang hilang,” sesalnya.

Menurutnya, anak-anak sekarang sudah tidak tahu permainan tradisional, padahal di permainan tradisional itu sebenarnya banyak sekali yang menuju ke motorik otak sehingga bisa mengasah keterampilan, rasa dan fokus semua menjadi satu.

“Hal inilah yang harus kita kembalikan lagi sehingga permainan tradisional tidak punah,” pungkasnya.

Lihat juga...