Karantina Lampung Tolak Pengiriman Ayam dan Daging Babi

LAMPUNG – Kementerian Pertanian melalui Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandarlampung Wilayah Kerja Bakauheni memperketat pengawasan perlalulintasan komoditas pertanian diantaranya Hewan Pembawa Hama Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK). Termasuk prosedur pengiriman perlalulintasan komoditas dari wilayah Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa.

Penanggung jawab kantor BKP Kelas I Bandarlampung Wilker Bakauheni Drh. Azhar menyebut pada Senin (11/12) berkoordinasi dengan BKP Kelas II Cilegon Provinsi Merak melakukan penolakan upaya pengiriman sebanyak 1000 ekor ayam asal Padang tujuan Karawang Jawa Barat.

Truk pengangkut komoditas 1000 ekor ayam boiler yang ditolak akibat tidak melapor ke karantina Lampung. [Foto: Henk Widi]
Penolakan pengiriman ayam boiler dilakukan terhadap sebanyak 1000 ekor oleh pengemudi kendaraan truk bernomor polisi BA 9800 HU bernama Ruli (40) warga asal Kampung Baru Sungai Jaring Lubuk Basung tersebut setelah melakukan pengiriman komoditas ayam milik perusahaan peternakan ayam di Kabupaten Padang Pariaman. Saat melintas melalui Pelabuhan Bakauheni sengaja tidak melaporkan komoditas yang diangkut melalui penyeberangan Bakauheni.

Selain itu pengurus jasa penyeberangan tidak melaporkan ke petugas karantina sehingga dilakukan penolakan di kantor karantina Merak selanjutnya dikembalikan ke karantina Lampung.

“Berdasarkan pemeriksaan dokumen yang dibawa sudah lengkap berupa izin keluar dari Dinas Peternakan, Sertifikat Surat Keterangan Kesehatan Hewan. Namun pengemudi dengan alat angkut yang dibawanya tidak melaporkan ke karantina Bakauheni sehingga tidak tercatat dan tidak membayar PNBP seperti aturan yang telah ditentukan,” terang Azhar selaku Penanggungjawab Kantor Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung Wilayah Kerja Pelabuhan Bakauheni saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (11/12/2017).

Sebagai tindakan tegas komoditas berupa ayam tersebut dikembalikan ke Pulau Sumatera. Meski sudah mencapai Pelabuhan Merak Banten akibat pengemudi melanggar Undang Undang Nomor 16 Tahun 1992 Tentang Karantina, Hewan, Ikan dan Tumbuhan sekaligus Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 Tentang Karantina Hewan.

Berdasarkan penuturan pengemudi pihaknya baru melakukan pengiriman ayam tersebut sehingga tidak melaporkan ke petugas karantina akibatnya pengemudi harus membuat surat pernyataan bermeterai untuk tidak melakukan pengiriman ayam tanpa melapor ke karantina.

Selain melanggar aturan, Azhar menyebut, tindakan penolakan dilakukan oleh BKP Kelas II Cilegon untuk memberi efek jera sekaligus upaya mendisiplinkan para pelaku usaha pengiriman komoditas pertanian antar pulau sebab ia menyebut jika tidak dilalulintaskan antar pulau pengirim tidak harus melaporkan ke karantina pertanian.

Akibat tindakan tegas karantina tersebut pengemudi tetap diperbolehkan melalulintaskan ayam boiler tersebut setelah menulis surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya meski harus menderita kerugian akibat harus membayar tiket penyeberangan dan biaya operasional lain hampir mencapai Rp3 juta lebih untuk tiga kali penyeberangan.

Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon Drh. Adi Prasetyo yang mendampingi pengemudi kendaraan pembawa 1000 ekor ayam asal Sumatera Barat tujuan Karawang Jawa Barat tersebut mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pengawalan pengiriman komoditas ayam yang telah ditolak tersebut untuk memastikan ayam tersebut sampai ke karantina pertanian Lampung.

Sementara itu Ruli selaku pengemudi berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya mengirim komoditas pertanian tanpa melapor ke karantina pertanian.

Terkait pengiriman komoditas pertanian, bahan hewan dan segala jenis produknya Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung, menurut Azhar, juga berhasil mengamankan sebanyak 500 kilogram daging babi hutan asal Sumatera Selatan yang akan dibawa ke Tangerang.

Daging babi hutan yang dibawa dengan sebanyak lima koli tersebut dibawa dengan menggunakan kendaraan bak terbuka bernomor polisi BE 9953 CO dan berhasil diamankan di pelabuhan Bakauheni Lampung.

“Daging celeng yang dikirim tidak dilengkapi dokumen yang sah seperti surat asal hewan, sertifikat kesehatan hewan, keterangan izin pemasukan dari tempat yang akan dikirim dan diangkut menggunakan alat angkut yang bukan untuk peruntukkannya maka kita amankan,” tegas Azhar.

Upaya pengiriman komoditas daging terutama daging babi hutan diakui oleh Azhar berpotensi terjadi melalui penyelundupan bermodus ditutupi komoditas lain seperti kelapa maupun buah lain. Mengingat menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 kebutuhan konsumsi diprediksi akan meningkat dan dikhawatirkan daging babi hutan akan dioplos dengan daging sapi menjadi produk olahan berupa bakso, sosis, nuget yang bisa merugikan konsumen terutama bagi yang diharamkan mengkonsumsi daging babi.

Perlindungan terhadap konsumen terus dilakukan oleh karantina pertanian dengan melakukan pengawasan ketat perlalulintasan komoditas pertanian melalui Pelabuhan Bakauheni.

Lihat juga...