Katalunya Menangkan Pemilu Parlemen Regional

BARCELONA – Kelompok pendukung pemisahan Katalunya dari Spanyol berhasil mempertahankan kekuasaan di Katalunya. Hal tersebut terlihat dari hasil perhitungan sementara pemilihan anggota parlemen Katalunya pada Jumat (22/12/2017).

Hasil tersebut menunjukkan bahwa warga Katalunya menolak upaya Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menyelesaikan perpecahan politik terbesar di negaranya dalam beberapa dasawarsa belakangan. Dan hasil tersebut juga menunjukkan kemunduran bagi Uni Eropa, yang harus kembali menghadapi kebisingan soal kemerdekaan Spanyol, seusai Inggris keluar dan suara protes dari negara Eropa timur.

Dengan menggelar pemilihan umum di Katalunya, Rajoy tampaknya mengulangi kesalahan pemimpin lain Eropa, seperti, di Inggris dan Italia, yang berjudi dengan menyerahkan keputusan politik besar ke tangan warga. Katalunya adalah wilayah secara umum sejahtera yang menopang sekira 20 persen dari keseluruhan perekonomian Spanyol. Lebih dari 3.100 perusahaan memindahkan kantor pusat mereka dari Katalunya sejak kelompok pemisah menang dalam referendum kemerdekaan pada 2017 ini.

“Semakin banyak perusahaan yang memindahkan operasinya, sehingga aktivitas ekonomi menurun. Ini buruk bagi semua orang,” kata Seorang Direktur sebuah perusahaan umum Spanyol, yang meminta namanya dirahasiakan, Jumat (22/12/2017).

Perdana Menteri Rajoy pada awalnya berharap bisa memenangi pemilu parlemen Katalunya untuk memukul balik lawan politiknya. Namun partai Rajoy justru tidak mendapat suara signifikan, sehingga memunculkan kekhawatiran akan kembalinya presiden Katalunya yang sempat dia pecat.

Pemimpin kelompok pendukung kemerdekaan Katalunya yang disebut Rajoy sebagai separatis, Carles Puigdemont, sebelumnya harus berkampanye dari Belgia untuk menghindari penangkapan atas tudingan penghasutan. Sementara itu, warga pendukung kemerdekaan di Barcelona berkumpul sambil meneriakkan kalimat “Presiden Puigdemont” dan mengibarkan bendera Katalunya.

Katalunya, yang sempat mengalami penindasan kultural pada masa Jenderal Fransisco Franco, kembali menuntut kemerdekaan dalam beberapa tahun terakhir setelah perekonomian mereka tumbuh pesat. Pemerintah Katalunya beralasan bahwa mereka menanggung beban pajak terlalu besar untuk membayar hutang nasional dan mensubsidi daerah Spanyol lain yang kurang sejahtera.

Tuntutan itu berpuncak pada 1 Oktober lalu saat polisi nasional menggunakan gas air mata dan barikade untuk mencegah warga Kalatunya menghadiri pemungutan suara referendum kemerdekaan. Pada saat parlemen Katalunya menyatakan kemerdekaan seusai referendum, Rajoy menggunakan kewenangan konstitusionalnya untuk memerintah langsung dari Madrid.

Di sisi lain, Rajoy juga banyak mendapatkan dukungan dari negara-negara Uni Eropa lain seperti Jerman dan Prancis. Upaya Puigdemont mendapatkan pengakuan internasional dari Brussel masih gagal. Dia menyebut Uni Eropa kelompok negara mundur karena menolak menengahi sengketa politik Katalunya dengan pemerintah pusat Spanyol.

Dalam pernyataanya, Carles Puigdemont mengatakan, dirinya akan bertemu dengan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy di luar wilayah Spanyol untuk melakukan pembicaraan. “Saya terbuka untuk bertemu (Rajoy) di Brussels atau di negara yang lain di kawasan Uni Eropa, yang bukan Spanyol,” kata Puigdemont dalam sebuah pernyataan pers di Brussels, Belgia.

Dia juga mengatakan siap untuk kembali ke Spanyol, jika ada jaminan bahwa dia dapat mengambil posisi sebagai kepala pemerintahan baru Katalunya nanti. Puigdemont mengasingkan diri di Brussels sejak Oktober setelah Rajoy memecat orang-orang pemerintahan daerahnya, menyusul referendum dan pernyataan kemerdekaan Katalunya. Banyak dari orang-orang di kabinetnya dipenjara sambil menunggu penyelidikan tentang gerakan kemerdekaan.

Pasca kemenangan Katalunya, Perdana Menteri Mariano Rajoy kemungkinan akan membatalkan rencana menyelenggarakan pemilihan umum nasional. Keadaan itu menggagalkan usahanya untuk menyelesaikan krisis politik terbesar dalam beberapa dasawarsa di negara tersebut.

Rajoy sebelumnya bertaruh bahwa partai-partai serikat buruh akan mengendalikan pemerintahan daerah Katalunya, yang ia bubarkan pada Oktober karena secara tidak sah mengupayakan kemerdekaan dari Spanyol. Ketika berbicara pada sebuah konferensi pers, Rajoy mengatakan bahwa dia akan berusaha mengadakan pembicaraan dengan pemerintah Catalunya yang baru. Namun, dia tidak menjelaskan apakah dia bersedia bertemu dengan Presiden Katalunya yang dipecat, Carles Puigdemont. (Ant)

Lihat juga...