Kebijakan Presiden Soeharto Tentang Sembako

Kebutuhan pokok adalah kebutuhan utama atau primer manusia yakni sandang, pangan dan papan. Kebutuhan yang terus meningkat mendorong manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pokok. 

Kondisi tersebut mendorong sosok Presiden Soeharto memperhatikan ketersediaan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Sebagai pemimpin negara Dia harus mengeluarkan kebijakan mengenai kebutuhan pokok secara bijaksana. Seperti yang dilakukan pada pada tanggal 30 Desember 1967, sebagaimana yang dilansir Soeharto.co, Presiden Soeharto mengeluarkan kebijakan mengenai distribusi bahan kebutuhan pokok keperluan hidup bagi Pegawai Negeri Sipil/ ABRI dan pengendalian jatah pangan bagi pekerja harian tetap pemerintah, karyawan perusahaan negara, perusahaan swasta penting dan besar.

Kebijakan yang mulai berlaku pada 1 Januari 1968 tersebut tercantum dalam SK Presiden RI No. 272/ 1967 yang ditetapkan pada 30 Desember 1967. Surat Keputusan ini sebenarnya merupakan legalisasi dari kebijaksanaan pemerintah yang mulai di­jalankan sejak 5 Desember 1967.

Latar belakang lahirnya kebijakan kebutuhan pokok ini karena pada 1966 tercatat inflasi mencapai titik tertinggi sebesar 650 %. Sebelumnya, di 1965 inflasi tercatat sebesar 280% dan pada 1964 inlasi terjadi sebesar 90%.

Membaiknya kondisi perekonomian dapat dilihat dari berbagai indikator seperti tingkat inflasi, jumlah uang yang beredar di masyarakat, juga proses pembangunan infrastruktur. Membaiknya kondisi ekonomi diperoleh dari stabilnya kondisi politik masa orde baru. Setelah perubahan kondisi politik di Indonesia di bawah orde baru yang memiliki sikap anti komunis, negara-negara anti komunis setuju untuk menjadi kreditur bagi Indonesia. Negara-negara ini kemudian membentuk IGGI (Inter Governmental Goup on Indonesia) pada tahun 1967.

Kebijakan Presiden Soeharto tentang distribusi bahan kebutuhan pokok masuk dalam buku “Jejak Langkah Pak Harto 01 Oktober 1965 – 27 Maret 1968”, hal 229-230, yang ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, dengan editor: G. Dwipayana dan Nazarudin Sjamsuddin, yang diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta pada 2003.

Presiden Soeharto begitu sangat mempedulikan bahan kebutuhan pokok masyarakat. Dari kepedulian tercetus sejumlah ide seperti, kegiatan pertemuan untuk petani dan nelayan di Indonesia, yang dinamakan Kelompencapir atau Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa. Kegiatan ini mengikutkan petani-petani berprestasi dari berbagai daerah. Mereka diadu kepintaran dan pengetahuannya seputar pertanian, antara lain soal cara bertanam yang baik dan pengetahuan tentang pupuk dengan model mirip cerdas cermat. Program tersebut ikut andil kala Indonesia mencapai swasembada pangan dan mendapatkan penghargaan dari FAO pada 1984.

Sandang adalah pakaian yang dibutuhkan manusia sebagai mahluk berbudaya. Pada awalnya manusia memanfaatkan pakaian dari kulit kayu dan hewan yang tersedia di alam. Dengan ilmju pengetahuan, dikembangkan teknologi pemintal kapas menjadi benang untuk ditenun menjadi kain.

Hingga akhirnya, tercipta pakaian yang berfungsi sebagai pelindung dari panas dan dingin. Perkembangan budaya mengarahkan terjadinya perubahan fungsi pakaian yakni untuk memberi kenyamanan sesuai dengan jenis-jenis kebutuhan seperti pakaian kerja, pakaian santai dan untuk tidur.

Pangan adalah kebutuhan yang paling utama bagi manusia. Usaha mencukupi kebutuhan pangan di negara-negara berkembang dilakukan secara tradisional atau dengan cara memperluas lahan pertanian yang disebut ekstentifikasi. Sementara di negara maju, sistem pertanian telah dilakukan dengan cara intensifikasi yaitu cara mengolah pertanian dengan lebih baik dan modern. Hal itu menyebabkan produksi pertanian negara maju lebih bagus dibanding negara berkembang.

Papan adalah kebutuhan tempat tinggal bagi manusia. Rumah berfungsi hanya untuk bertahan diri. Perkembangan budaya menjadikan rumah tidak hanya menjadi sekedar tempat berlindung, sehingga dilakukan upaya memperindah baik dari tampilan maupun bentuk.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan pokok perlu mendapat prioritas utama demi kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah kemudian menetapkan Sembilan Bahan Pokok atau sering disingkat Sembako, yaitu sembilan jenis kebutuhan pokok masyarakat menurut keputusan Menteri Industri dan Perdagangan no. 115/mpp/kep/2/1998 tertanggal 27 Februari 1998.

Kesembilan bahan itu adalah:

  1. Beras, Sagu, dan Jagung
  2. Gula pasir
  3. Sayur-sayuran dan Buah-buahan
  4. Daging Sapi, Ayam, dan Ikan
  5. Minyak goreng dan Margarin
  6. Susu
  7. Telur
  8. Minyak Tanah atau gas ELPIJI
  9. Garam berIodium dan bernatrium
Lihat juga...