Kereta Api Cepat, Daya Saing Pesawat Terbang

Editor: Satmoko

59
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi saat menghadiri seminar pembangunan jalur kereta api cepat Jakarta-Surabaya di ruang seminar Sekolah Pascasarjana UGM, Kamis (7/12/2017). Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan segera membangun jalur kereta api cepat Jakarta-Surabaya yang ditargetkan selesai secara bertahap pada 2020 mendatang. Pembangunan kereta api cepat ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan daya saing serta menurunkan biaya logistik arus barang dan jasa.

Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi mengatakan, pembangunan kereta api cepat yang menghubungkan Jakarta-Surabaya dengan kecepatan mencapai 160 km per jam ini akan mengurangi waktu tempuh yang sebelumnya 9 jam menjadi 5,5 jam. Tak hanya itu, dengan waktu tempuh tersebut, kereta cepat ini juga dinilai mampu berkompetisi dengan waktu tempuh pesawat terbang Jakarta-Surabaya.

“Kereta api ini bisa dua kali bolak balik dalam sehari semalam. Sehingga transportasi udara (pesawat) akan memiliki teman yang namanya kereta cepat,” ujar Menhub saat menghadiri seminar pembangunan jalur kereta api cepat Jakarta-Surabaya di ruang seminar Sekolah Pascasarjana UGM, Kamis (7/12/2017).

Pembangunan jalur kereta api cepat tersebut diakui Menteri memerlukan biaya yang tidak sedikit. Meski begitu Menhub mengatakan, pihaknya saat ini tengah mempertimbangkan beberapa pilihan jenis teknologi kereta api cepat tersebut. Saat ini dikatakan Menhub sudah ada sejumlah studi antara lain bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Ini adalah proyek besar. Sampai sekarang masih dalam proses sosialisasi dan proses mendapatkan masukan-masukan dari para ahli. Kita akan bandingkan mana saja yang bisa digunakan dan mengetahui dinamika percepatan kereta api di masing-masing negara,” tuturnya.

Menhub berharap pembangunan kereta api cepat mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi setiap kota yang disinggahi. Karena itu ia menegaskan, mega proyek tersebut akan tetap menggunakan rel atau jalur kereta eksisting yang selama ini dilalui seperti Brebes, Tegal, Pekalongan, dan Semarang.

“Selain murah, jalur eksisting ini telah membentuk simpul-simpul ekonomi di masing-masing kota. Kalau kita ubah maka kita meninggalkan masyarakat yang sudah memiliki ketergantungan itu,” katanya.

Karena itu pihaknya mengaku, harus terlebih dahulu melakukan penataan jalur kereta api yang nantinya terintegrasi dan massif yang bisa menghubungan antarkota di Jawa. Termasuk menyelesaikan penutupan 800-900 perlintasan sebidang serta titik rawan kecelakaan yang dinilai dapat mengganggu perlintasan kereta cepat.

”Sesuai dengan arahan dan tujuan yang disampaikan Presiden agar proyek ini bisa meningkatkan daya saing,” katanya.

Komentar