Komunitas ‘A Day To Walk’ Perkenalkan Wisata Sejarah Kayutangan

MALANG — Kayutangan, salah satu daerah bersejarah di Kota Malang selain di kawasan Ijen. Bangunan-bangunan masa lalu banyak di jumpai di wilayah tersebut. Sayangnya, masih kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun masyarakat.

Melihat persoalan tersebut, komunitas ‘A Day To Walk’ mengadakan acara bertajuk ‘Waktu Ruang-Kayutangan’ guna mengangkat dan mengenalkan sejarah Kayutangan kepada masyarakat luas.

Koordinator A Day to Walk, Gaharu Jabal menjelaskan, kegiatan yang diselenggarakan dengan melibatkan warga sekitar dan dibantu beberapa komunitas kreatif di Malang merupakan salah satu langkah untuk mengenalkan koridor kawasan Kayutangan agar bisa diangkat menjadi wisata sejarah.

“Kayutangan adalah kawasan yang memiliki potensi wisata kota dengan konsep walking tour pada kawasan Heritage. Menyusuri Kayutangan dengan cara berjalan kaki, kita akan menemui spot-spot yang menarik, seperti toko-toko dan bangunan kuno yang masih eksis sejak tahun 1940 seperti Taman Tembakau, Toko Riang, Toko Modern, Megaria, Toko Lido dan bangunan kembar di perempatan Kayutangan,” terangnya kepada Cendana News, Sabtu (16/12/2017).

Belum lagi saat berjalan kaki menyusuri kampung kayutangan dapat di temukan Pasar Talun, kanal sungai, terowongan dan beberapa bangunan rumah lawas lainnya di kawasan Kayutangan serta terdapat makam mbah Honggo yang berpotensi untuk dijadikan sebagai tempat wisata religi, sambungnya.

Akan tetapi diakui Gaharu, sebagian besar bangunan Kayutangan sudah banyak yang berubah dengan bangunan baru.

“Meskipun bangunannya sudah banyak yang berganti tapi sebenarnya kalau kita mau mencari dengan teliti masih ada dan banyak bangunan kuno yang masih terawat, “akunya.

Menurutnya, kegiatan ini selain mengulas dan mengenalkan kembali sejarah Kayutangan, juga sebagai pemantik semangat masyarakat sekitar, khususnya anak-anak muda di Kota Malang untuk lebih peduli terhadap sejarah kota.

“Intinya kami ingin merubah cara berfikir masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungannya,”tandasnya.

Gaharu Jabal/Foto: Agus Nurchaliq

Direktur Pengendalian Pemanfaatan Ruang, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Wisnubroto Sarosa, mengaku sangat tertarik dengan tema yang diangkat A Day to Walk yakni Waktu Ruang.

“Jadi kita memang harus berbicara mengenai aspek waktu yang digabungkan dengan dimensi ruang, karena selama ini seringkali orang hanya berbicara mengenai aspek ruang saja tapi tidak pernah berbicara waktu ke belakang atau mengenai sejarah, “ucapnya.

Menurutnya jika komunitas A Day to Walk saat ini berbicara tentang waktu dan ruang itu merupakan penghargaan terhadap sejarah suatu kawasan atau kota yang memiliki arti sangat penting. Karena kota akan menjadi hambar kalau kehilangan sejarahnya.

“Tapi dengan memperkaya atau dengan menunjukkan bahwa kawasan tersebut mempunyai sejarah maka akan bisa memberikan warna dan kekuatan untuk kota tersebut, “tuturnya.

Kesadaran seperti inilah yang seharusnya bisa muncul sehingga kawasan-kawasan bersejarah bisa diselamatkan dan status dan pengelolaannya juga bisa jelas, pungkasnya.

Sementara itu disebutkan, acara Waktu Ruang Kayutangan berlangsung selama tiga hari dan berakhir besok Minggu (17/12/2017).

Lihat juga...