KPA Kotim Libatkan Anak Muda dalam Penyuluhan HIV/AIDS

SAMPIT – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, meningkatkan penyuluhan tentang HIV/AIDS kepada generasi muda, agar terhindar dari penyakit mematikan itu.

“Hasil pendataan, 95 persen penderita HIV/AIDS adalah berusia produktif. Ini tentu sangat memprihatinkan. Makanya, penyuluhan kepada pelajar, mahasiswa dan organisasi kepemudaan, kami tingkatkan,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kotim, Asyikin Arpan, di Sampit, Senin (25/12/2017).

Berdasarkan data di Kotawaringin Timur, sejak 2011 hingga November 2017, penderita HIV sebanyak 266 orang dan AIDS sebanyak 64 orang. Mereka terdiri dari 92 laki-laki dan 174 perempuan.

Berdasarkan segi usia, terdiri dari usia kurang dari 4 tahun sebanyak 4 orang, usia 5 sampai 14 tahun sebanyak 1 orang, usia 15 sampai 19 tahun sebanyak 7 orang, usia 20 sampai 24 tahun sebanyak 39 orang, usia 25 sampai 49 tahun sebanyak 207 orang dan usia lebih dari 50 tahun sebanyak 8 orang.

Berdasarkan data tersebut, penderita terbanyak berusia produktif, yakni 25 sampai 49 tahun, hampir 95 persen. Penularan tertinggi melalui proses heteroseksual.

Prihatin dengan kondisi ini, kini generasi muda menjadi sasaran prioritas pencegahan HIV/AIDS, namun tanpa mengesampingkan kelompok lainnya. Pendekatan dilakukan dengan berbagai cara, agar generasi muda tertarik dan mengikuti penyuluhan HIV/AIDS dengan harapan menghindarkan mereka dari penyakit mematikan tersebut.

Kini, penyuluhan HIV/AIDS untuk generasi muda tidak lagi melulu disampaikan oleh pengurus Komisi Penanggulangan AIDS yang notabene berusia tua. Kini pendekatan dilakukan dengan menghadirkan tokoh-tokoh muda menjadi narasumber dalam penyuluhan.

“Kami menyebutnya dengan istilah kelompok dukungan sebaya. Mereka dilibatkan supaya bahasanya nyambung, karena sesama anak muda. Pemuda harus lebih banyak kita arahkan pada kegiatan positif sehingga terhindar dari pergaulan bebas, seks bebas dan narkoba yang sama-sama rentan penularan HIV/AIDS,” kata Asyikin.

Asyikin berharap, langkah tersebut mampu mewujudkan target ‘three zero‘ pada 2030 nanti. Yakni tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat HIV/AIDS dan tidak ada diskriminasi bagi ODHA atau orang dengan derita AIDS.

Meski begitu, Asyikin juga mengimbau masyarakat berempati dan tidak mendiskriminasi, jika mengetahui ada ODHA di sekitar mereka. ODHA tidak boleh dijauhi, tetapi justru harus dirangkul dan dimotivasi supaya mereka banyak mengikuti kegiatan positif karena ODHA adalah korban. (Ant)

Lihat juga...