Kurangnya Populasi Burung, Rugikan Manusia dan Tumbuhan

Editor: Satmoko

36
Dosen dan Peneliti Burung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mataram, Dr. Wayan Suana. Foto: Turmuzi

MATARAM – Aktivitas penangkapan dan penangkaran burung secara liar dalam jumlah besar, selain akan berdampak terhadap kelestarian berbagai spesies burung, juga akan merugikan manusia dan tumbuh-tumbuhan.

Pasalnya burung merupakan jenis binatang yang sebagian besar pemakan ulat yang menghinggapi berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, termasuk tanaman pertanian dan buah-buahan.

“Kalau populasi burung pemakan ulat semakin sedikit atau bahkan punah, tidak menutup kemungkinan, tidak akan ada lagi binatang pemakan ulat perusak tanaman pertanian, buah- buahan maupun tumbuhan lain,” kata Dosen dan Peneliti Burung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mataram, Dr. Wayan Suana di Mataram, Rabu (6/12/2017).

Dampaknya, petani bisa mengalami kerugian, bahkan gagal panen, karena burung pemakan ulat yang merusak tanaman pertanian jumlahnya berkurang. Bahkan bisa terancam punah, kalau penangkapan dan penjualan secara liar dalam jumlah besar terus dilakukan.

Ketergantungan manusia terhadap makhluk lain yang ada di sekitar, memang tak bisa dipungkiri. Namun, tidak sedikit pula, berbagai macam makhluk hidup yang ada di tengah-tengah kehidupan manusia semakin terancam akan kepunahan mereka.

“Selain aktivitas penangkapan dan penjualan secara liar, aksi pembalakan liar kawasan hutan yang merupakan tempat tumbuh dan berkembang biak burung juga semakin memprihatinkan. Banyak hutan digunduli, pepohonan ditebang secara liar, termasuk aktivitas alih fungsi lahan yang semakin banyak,” katanya.

Kehidupan manusia memang sangat tergantung pada jenis hewan penyerbuk yang membantu kelestarian alam, karena jenis hewan penyerbuk layaknya burung, lebah, serangga dan sejenisnya akan senantiasa menyerbuki dan menyuburkan berbagai macam tanaman pangan manusia. Kesemuanya itu memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

“Bila semua jenis makhluk hidup tersebut lenyap dari planet ini, tentunya akan bisa menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Balai Sumber Daya Alam dan Ekowisata (BKSDAE) NTB, Widada mengatakan, untuk memastikan keberadaan populasi berbagai spesies burung di NTB, perlu memperketat pengawasan dan penegakan hukum terhadap aktivitas pemangkasan dan penjualan burung secara liar.

BKSDAE NTB juga memaksimalkan keberadaan sejumlah Taman Wisata Alam (TWA) dan Taman Nasional sebagai tempat hidup dan berkembang biak berbagai jenis dan spesies burung, bekerjasama dengan Universitas Mataram.

“Selain sebagai tempat hidup dan berkembang biak burung serta binatang lain, TWA yang ada juga dimanfaatkan untuk pengembangan wisata alam ekowisata dengan melibatkan masyarakat setempat,” kata Widada.

Komentar