Lewat Kader Jiwa, Posdaya Atasi Persoalan Kejiwaan Warga Prawirodirjan

YOGYAKARTA — Banyaknya warga yang mengidap masalah gangguan jiwa menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat Kampung RW 12 Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta selama ini. Bagaimana tidak, sejumlah warga kampung yang terletak di tengah pusat kota Yogyakarta ini diketahui banyak mengalami stres sejak beberapa tahun terakhir.

Berita terkait: Utami: Posdaya “Ibu-Bapak”nya Pembedayaan Masyarakat di Kampung/Desa

Tingginga biaya dan tuntutan hidup di tengah kota, ditambah kondisi ekonomi warga yang masih lemah, serta kurangnya layanan dalam bidang pendidikan dan kesehatan dinilai menjadi penyebab utama masalah ini. Tak hanya itu saja, adanya sejumlah warga yang secara genetik mengalami permasalahan gangguan jiwa, juga mengakibatkan hal ini sulit diatasi.

Menyikapi hal itu warga kampung RW 12 Prawirodirjan pun melalukukan sejumlah upaya memperbaiki kondisi tersebut. Salah satunya melalui sejumlah program terobosan di bidang kesehatan yang selama ini kurang disentuh oleh pemerintah daerah. Di antaranya, pembentukan program yang disebut Kader Jiwa.

Adalah posdaya Rukun Sejahtera yang menjadi sentral atau induk kegiatan tersebut. Melalui posdaya inilah program Kader Jiwa dibentuk dan dijalankan oleh warga. Lalu apakah program Kader Jiwa itu?

Ketua RW 12 Prawirodirjan sekaligus Ketua Posdaya Rukun Sejahtera, Utami Wulandari menjelaskan, Kader Jiwa merupakan program pendampingan bagi warga pengidap gangguan jiwa di kampung Prawirodirjan. Program ini menerapkan pola yang disebut 5 M.

“Jadi kita menempatkan satu orang Kader Jiwa di setiap wilayah RT. Kita memiliki 4 RT. Sehingga total ada 4 kader ditambah satu kader di tingkat RW. Kader ini bertugas mengawasi warga yang memiliki gangguan jiwa. Misalnya stres, mereka kita dampingi secara terus menerus dengan pola 5 M,” paparnya.

Ketua RW 12 Prawirodirjan sekaligus Ketua Posdaya Rukun Sejahtera, Utami Wulandari/Foto: Jatmika H Kusmargana

Yang dimaksud pola 5 M sendiri merupakan, pengawasan sekaligus pendampingan dilingkungan terdekat rumah penderita gangguan jiwa. Setiap Kader Jiwa harus dipilih yang tinggal dengan jarak maksimal 5 meter dari rumah penderita. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pendampingan sekaligus pengawasan terhadap mereka.

“Dengan adanya kader jiwa ini, kita menjadi lebih mudah dalam melakukan pengawasan serta deteksi dini. Karena para kader jiwa ini sudah dilatih hingga mampu menjadi pengganti psikolog. Jika nanti ada warga yang memang membutuhkan perawatan lanjut, akan segera dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit,” jelasnya.

Utami sendiri menyebut dengan adanya program terobosan Posdaya Rukun Sejahtera tersebut jumlah penderita gangguan jiwa di kampung RW 12 Prawirodirjan perlahan mulai berkurang. Atau setidaknya semakin jarang warga penderita yang kambuh permasalahan gangguan jiwanya. Saat ini tercatat tinggal 4 orang saja yang mengalami stres dari sekitar 230 KK yang ada.

“Saat ini sudah jauh lebih terkonrol. Karena mereka merasa dikawruhke. Sebab dulu disini angkanya termasuk cukup tinggi. Ada yang stress karena pernah trauma, stres karena kondisi ekonomi, atau stres karena faktor turunan,” katanya.

Lihat juga...