Liburan, Omzet Penjualan Oleh-oleh di Jalinsum, Meningkat

LAMPUNG — Para pedagang oleh-oleh di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, mulai merasakan peningkatan omzet penjualan sejumlah produk oleh-oleh buatan warga di wilayah Kecamatan Penengahan, Bakauheni dan Sidomulyo, seperti keripik pisang, kerupuk kemplang, kopi bubuk dan lainnya, seiring meningkatnya arus liburan panjang ini.

Sulaita (45), pedagang oleh-oleh di Jalan Lintas Sumatera KM 01 Bakauheni, mengaku selama arus liburan sekolah dan natal, mampu menjual sekitar 30 ball, lebih banyak dari hari biasa yang hanya sekitar 10 ball makanan tradisional, seperti kerupuk kemplang dan keripik pisang.

Sulaita, mempersiapkan barang-barang dagangan berupa keripik kemplang, kopi dan berbagai makanan dan minuman ringan di Jalinsum KM 01 Bakauheni Lampung. [Foto: Henk Widi]
Menurut Sulaita, dengan peningkatan arus lalu lintas menuju Pulau Jawa, sebagian hendak berlibur ke wilayah Serang, Tangerang dan Jakarta, dan sebagian merupakan warga yang usai berlibur dari wilayah Lampung dan pulang kembali membeli oleh-oleh untuk keluarga.

Peningkatan pembelian oleh-oleh tersebut,  ikut membantu para produsen makanan tradisional yang kerap memasok ke sejumlah pedagang tradisional pemilik toko oleh-oleh.

“Sebagai pemilik usaha kecil penjualan oleh-oleh, kami memang sangat mengandalkan arus liburan, di antaranya lebaran Idul Fitri, liburan panjang sekolah dan liburan natal dengan jumlah pengendara yang meningkat berimbas permintaan pembelian oleh-oleh meningkat dan meningkatkan omset,”ungkap Sulaita, Selasa (26/12/2017).

Sulaita menyebut, oleh-oleh yang dominan dibeli masyarakat yang melintas menuju pelabuhan Bakauheni untuk menyeberang ke Pulau Jawa, di antaranya jenis kerupuk kemplang, keripik pisang dan kopi bubuk.

Tren peningkatan permintaan tersebut mulai terjadi dalam pembuatan makanan tradisional yang dibuat oleh perajin pembuatan kerupuk kemplang yang ada di wilayah Kecamatan Penengahan dan Sidomulyo. Stok dari produsen tersebut bahkan sudah disediakan sepekan sebelum arus liburan berlangsung.

Sulaita mengungkapkan, saat hari biasa, penjualan kerupuk kemplang hanya berkisar 8 hingga 10 ikat dengan satu ikat bisa mencapai 2 bungkus, dengan harga per ikat mencapai Rp20.000. Sementara, saat liburan natal, bisa mencapai 5 ball atau sekitar 500 bungkus dengan omset per hari mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta.

Selain kerupuk kemplang, penjualan oleh-oleh berupa kopi bubuk juga mengalami kenaikan permintaan. Biasanya hanya kisaran 10 bungkus per hari biasa, namun saat arus liburan bisa mencapai 50 bungkus. Jenis kopi bubuk tersebut dijual seharga Rp15.000 per bungkus ukuran 250 gram, yang dibeli langsung dari produsen dan keripik pisang yang dijual Rp10.000 per bungkus.

Selain Sulaita, pedagang lain bernama Suwarni  di terminal pelabuhan Bakauheni juga mengakui peningkatan penjualan oleh-oleh terjadi selama arus liburan jelang natal. Jika hari biasa hanya sekitar 10 ball, selama arus liburan penjualan mencapai 70 ball dalam satu pekan. Khusus untuk kerupuk kemplang, ia mengaku menjual satu ikat berisi dua bungkus kerupuk kemplang seharga Rp15.000.

Suwarni menyebut, kerupuk kemplang sengaja dipasok dari perajin, sehingga harga yang dibeli bisa dengan harga Rp3.000 per bungkus, sehingga sirkulasi produksi makanan tradisional bisa lebih lancar dengan banyaknya permintaan saat arus liburan.

Ia juga menyebut, meski saat arus libur natal dan menjelang tahun baru permintaan lebih tinggi saat arus lebaran Idul Fitri. “Kalau perbandingan dengan libur lebaran, penjualan makanan tradisional memang lebih besar dibandingkan saat libur natal ini, namun lebih lumayan dibandingkan hari biasa dan berpengaruh pada omset penjualan,” terang Suwarni.

Lihat juga...