Lima Warga NTB Terinfeksi Difteri

MATARAM – Penyakit menular difteri sudah mulai menjangkiti warga di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebanyak lima orang warga masyarakat asal Kabupaten Bima NTB dilaporkan terinfeksi penyakit menular difteri.

“Sampai hari ini, ada lima warga yang dilaporkan terinfeksi penyakit menular difteri, empat di antaranya sudah dinyataka sehat dan dipulangkan, satu masih menjalani perawatan di RSUD Bima,” kata Kepala Pelaksana Tugas Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB, Marjito di Mataram, Jumat (29/12/2017).

Ia mengatakan, hasil uji laboratorium pemeriksaan kelima pasien, baik yang telah pulang maupun yang masih dalam masa perawatan sampai saat ini belum didapatkan Dinkes.

Karena sesuai aturan lima hari, informasi mengenai hasil uji laboratorium baru bisa didapatkan setelah lima sampai tujuh hari pemeriksaan di laboratorium.

“Sementara hasil laboratorium belum kita dapatkan, mudah-mudahan tidak ada yang positif, sebagaimana yang dilaporkan,” katanya.

Difteri sendiri adalah jenis penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi di selaput lendir hidung dan tenggorokan. Bakteri yang menginfeksi bernama Corynebacterium diphtheriae.

Umumnya penyakit difteri diawali dengan rasa sakit di tenggorokan, demam, lemas hingga membengkaknya kelenjar getah bening.

Ini biasanya disertai dengan demam sekitar 38 derajat Celcius, dengan tanda khas adanya membran putih keabuan. Biasanya akan menutupi saluran pernapasan, sakit menelan, menimbulkan sakit pada leher.

“Difteri bisa menyerang masyarakat semua umur, tapi memang anak bayi paling rentan, karena kekebalan masih lemah, sehingga untuk bayi kelengkapan imunisasi dasar sangat penting. Bayi minimal tiga kali mendapat imunisasi sampai umur 11 bulan,” katanya.

Ditambahkan Marjito, sebagai langkah antisipasi, saat ini imunisasi terhadap bayi rutin dilakukan, khususnya umur di bawah 18 bulan, sementara anak usia SD tiga kali, usia remaja dua kali.

Kepada masyarakat dirinya mengimbau supaya tetap menjaga lingkungan, selalu mencuci tangan pakai sabun, kalau ada keluarga yang batuk selalu pakai masker.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan difteri sebagai kejadian luar biasa (KLB). Sampai November 2017, penyakit ini telah menyebar di 95 kabupaten/kota di 20 provinsi, bahkan 11 provinsi di antaranya sudah masuk kategori KLB.

Bakteri penyebab difteri dikeluarkan melalui cairan mulut dengan batuk atau bersin. Bahkan bernapas saja kemungkinan penularannya tinggi. Difteri dikategorikan sebagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Lihat juga...