Malam Natal di TMII Penuh Suka Cita

JAKARTA – Perayaan malam misa natal di Gereja Protestan Haleluya dan Gereja Khatolik Santa Catharina Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (24/12/2017) berjalan dengan khidmat.

Jemaah yang mengikuti misa malam Natal di kedua gereja tersebut terlihat khusuk membaca Alkitab dengan selingan lagu suci. Suasana misa menjadi semakin syahdu penuh suka cita damai dan kebersamaan.

Pendeta Hendrik Timau. Foto: Sri Sugiarti.

Ketua Gereja Protestan Haleluya TMII Pendeta Hendrik Timau mengatakan, natal itu penuh makna yaitu  damai sejahtera yang didalamnya ada unsur suka cita, karena ada pengampunan Tuhan bagi manusia. Sehingga dalam suasana natal ini yang penting kita lakukan soal kesederhanaan.

“Dalam pemahaman umat Kristiani, Yesus itu lahir di kandang domba, kesederhanaan dan di lingkungan yang tidak layak. Sehingga bagi saya dengan makna natal ini tahun 2018 yang penting pertama kesederhanaan, damai, sejahtera, suka cita, dan pengampunan,” kata Pendeta Hendrik kepada Cendana News usai misa Natal di Gereja Protestan Haleluya TMII, Jakarta, Minggu (24/12/2017) malam.

Di 2018, dengan semangat kesederhanaan Hendrik menyebut, meskipun ada kesulitan, seluruh persoalan bisa dihadapi bersama. Dan dibalik sebuah kesuliotan disebutnya ada suka cita dan kegembiraan. Manusia disebutnya, memiliki banyak kelemahan dan kekurangan sehingga perlu juga ada pengampunan. “Mengampuni dan melupakan supaya aman dan damai kita kedepan,” ucapnya.

TMII disebut Hendrik adalah taman Indonesia yang berarti ada aneka keragaman hadir di TMII baik itu anjungan, tempat ibadah, manusianya. Bahkan aneka flora dan fauna pun tersaji di TMII. “Kita bersykur rumah ibadah kita ini bukan kebetulan tapi memang berjejeran Gereja Protestan, Khatolik, dan Masjid,” ujarnya.

Di TMII Hendrik melihat nuansa kemajemukan,  pluralisme dan teloransi tercipta. Keberadaan TMII menjadi perawat kebersamaan dan keanekarahgaman di Indonesia. Anjungan daerah seluruh Indonesia hadir di sini dengan latar belakang suku bangsa dan agama.

Suasana misa Natal di Gereja Khatolik Santa Catharina TMII, Jakarta, Minggu (24/12/2017) malam. Foto: Sri Sugiarti.

Kepala Humas TMII Jerry Lahana mengatakan, di TMII ini kekuatan toleransi beragama terlihat. Hal itu bisa dilihat dari kehadiran tujuh rumah ibadah di TMII yaitu dua Gereja, dan masjid, pura, wihara, kelenteng, dan Sasono Adiroso (tempat ibadah penghayat kepercayaan) masing-masing satu.

“Puji Tuhan, saya bisa merayakan Natal bersama keluarga tercinta. Natal penuh suka cita kehadiran Kristus secara pribadi dalam hidup kita yang sejati,” ungkap Jerry yang merasa bersyukur karena perayaan Natal 2017 bisa berkumpul bersama keluarganya dan menjalankan misa bersama di Gereja Protestan Haleluya TMII.

Jerry menyebut, bukti keragaman beragama harus dijaga dan di hormati sebagai upaya menjaga ciri keberagaman di Indonesia. “Kita bermacam-macam tapi kita tetap satu kita Indonesia, kita sesama manusia. Saya berharap Natal membawa damai Indonesia.Kita bermacam-macam tapi kita tetap satu, Indonesia. Jangan ada perbedaan, pun ada  gesekan mudah-mudahan itu hilang,”  pungkas Jerry.

Lihat juga...