Marena Kabupaten Sigi Bisa Jadi Contoh Desa Peduli Hutan

PALU — Marena, salah satu desa di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah patut dijadikan contoh sebagai desa yang selama ini sangat peduli dengan hutan di sekitarnya.

“Masyarakat di desa kami sangat menjaga hutan sehingga sampai sekarang ini tidak pernah ada bencana alam banjir atau tanah longsor,” kata Yeni, salah satu tokoh masyarakat dan adat di Kecamatan Kulawi Selatan, Sabtu (9/12/2017).

Ia mengatakan sejak turun temurun nenek moyang kami telah meletakan suatu dasar/pondasi adat istiadat yang kuat bagaimana menjaga dan melestarikan hutan dan segala sumber hayati di didalamnya demi kelangsungan kehidupan anak cucu.

Dan sampai sekarang ini, masyarakat yang ada di Desa Marena dengan populasi penduduk berjumlah lebih dari 1.000 jiwa atau 400kk tetap sangat memegang teguh adat dan budaya yang telah diwariskan para leluhur secara turun temurun.

Kerarifan lokal masyarakat Desa Marena tetap dipertahankan hingga saat ini, misalkan tidak boleh menebang pohon sembarangan, membuka kebun, memburu hewan dan juga mengganggu sumber-sumber mata air yang ada di sekitarnya.

Bagi masyarakat baik dari maupun yang ada di dalam Desa Marena, jika sampai menggar adat, maka sanksi pasti akan dikenakan kepada bersangkutan.

Ia mencontohkan, jika terbukti ada warga yang menebang pohon atau membuka kebun tanpa seizin lembaga adat setempat, maka bersangkutan akan dikenakan sanksi adat.

Dan sanksi adat yang berlaku di wilayah ini cukup berat. “Dendanya satu ekor kerbau,” kata Yeni, perempuan yang cukup peduli terhadap kesejahteraan masyarakat dan juga alam sekitarnya.

Sementara Kepala Desa Marena, Nixen membenarkan masyarakat di desanya sangat peduli dengan hutan yang ada disekitarnya.

Dia mengaku, bahwa secara administrasi wilayah, Desa Marena terletak di jalur jalan Palu-Gimpu dan berbatasan dengan kawasan hutan lindung dan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

Masyarakat Desa Marena, kata dia, hampir seluruhnya adalah petani. Rata-rata petani di desa ini menanam tanaman pertanian antara lain padi ladang, jagung, kedelain, ubi kayu dan ubi ungu serta tanaman lainnya.

Juga tanaman perkebunan seperti yang selama ini dikembangkan di Desa Marena adalah kakao dan kopi biji. “Komoditas-komoditas itu yang selama ini menjadi sumber utama penghasilan ekonomi masyarakat Desa Marena,” kata dia.

Masyarakat, kata Nixen sangat berharap kepada pihak Balai Besar Taman Nasional (TNLL) sebagai pengelola kawasan konservasi tersebut bisa bersama-sama mengelolah sumber daya alam yang ada di kawasan bagi peningkatan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat tanpa mengganggu flora dan fauna yang ada di dalamnya.

“Mari kita bersama-sama mengolah hutan dan segala yang ada di dalamnya, tanpa merusak sedikitpun,” kata dia.

Karena kebutuhan yang paling utama seperti air baik untuk sawah maupun air bersih bersumber dari dalam kawasan TNLL. “Nah kalau kita rusak hutan di dalamnya, maka sama berati kita merusak kehidupan kita sendiri,” kata Nixen.

Ia juga mengatakan, masyarakat di Desa Marena saat ini dalam rangka menambah penghasilan keluarga atau rumah tangga, khususnya di kalangan kaum perempuan sedang mengembangkan usaha keterampilan seperti membuat berbagai jenis produk kerajinan dari bahan baku daum pandan hutan.

Produk-produk yang mulai dihasilkan, meski masih dalam jumlah terbatas seperti tikar, keranjang, tempat makanan dll, semuanya menggunakan bahan baku lokal.

Bahan baku tersebut sangat banyak tumbuh di sekitar hutan yang ada di Desa Marena.

Jika permintaan pasar semakin meningkat, tidak menutup kemungkinan akan memproduksi lebih banyak lagi untuk dipasarkan ke berbagai pangsa pasar, terutama ke Kota Palu dan juga daerah lainnya.

Masyarakat juga sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah pusat dan daerah, termasuk TNLL yang punya kawasan konservasi bisa bersinergi dengan pemerintah desa, BPD dan lembaga adat untuk kepentingan bersama.

“Saya sangat setuju sekali kalau hutan, bukan hanya kawasan konservasi saja, tetapi semua yang namanya hutan dijaga bersama dengan baik karena tidak bisa terpisahkan dengan manusia,” kata Kades Nixen dalam wawancara khusus dalam rangka kegiatan travelling jounalist menggali kekayaan dan potensi alam/hutan yang akan dikembangkan untuk pengelolaan hutan lestasi berkelanjutan mengadopsi adat dan buadaya lokal di cagar biosfer Lore Lindu.[Ant]

Lihat juga...