Marniati, Sepuluh Tahun Buruh Migran Tanpa Gajian

LOMBOK – Kondisi ekonomi dan tidak ada pekerjaan, hampir menjadi alasan sebagian besar masyarakat yang berangkat bekerja ke luar negeri sebagai Buruh Migran (BM) dengan harapan bisa memperbaiki kehidupan dan perekonomian keluarga.

Alasan itu pula yang mendorong Marniati (36), asal Kelurahan Gegutu, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), Nusa Tenggara Barat (NTB) berangkat bekerja ke luar negeri sebagai BM.

“Menikah pada umur 20 tahunan, kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, ditambah suami yang bekerja hanya sebagai tukang ojek dan harus menghidupi dua orang anak, jelas tidak mencukupi memenuhi kebutuhan keluarga,” cerita Marniati mengenang pengalaman pahitnya sebagai BM kepada Cendana News, Selasa (26/12/2017).

Karena alasan itulah, berbekal tekad memperbaiki ekonomi keluarga, Masniati meminta izin kepada suami untuk bekerja sebagai BM melalui salah satu Perusahaan Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) untuk berangkat ke Jeddah.

Dari sinilah, pengalaman pahit Marniati sebagai BM dimulai. Selama proses penampungan di Jakarta yang awalnya dijanjikan satu bulan ternyata sampai tiga bulan.

Setelah ditampung selama tiga bulan di Jakarta, Marniati bersama BM lain kemudian langsung diberangkatkan ke Jeddah menggunakan pesawat dan langsung bekerja sebagai PRT pada salah satu majikan.

“Selama bekerja sebagai PRT, meski tidak diperlakukan kasar oleh majikan, tapi saya harus bekerja hampir seharian penuh. Mencuci dan memasak dan baru istirahat jam 03.00 sore sampai Magrib waktu Jeddah,” katanya.

Setelah satu bulan dirinya bekerja, dirinya meminta gaji kepada majikan, tapi tidak diberikan dan dijanjikan akan diberikan saat pulang ke Indonesia. Jawaban sama juga didapatkan saat meminta gaji pada bulan berikutnya.

Hingga selama dua tahun bekerja tanpa mendapatkan gaji, dirinya sempat berencana melarikan diri dengan cara melompat melalui jendela, tapi semua jendela dikunci, sehingga niat melarikan diri tidak jadi dilakukan dan tetap bekerja tanpa gaji.

Sementara untuk menelepon keluarga di Lombok maupun agen PJTKI yang memberangkatkan juga tidak bisa dilakukan, karena dirinya tidak diberikan izin oleh majikan.

Lihat juga...