Moratorium Mal di Jakarta untuk Atasi Tren Penurunan Ritel

JAKARTA — Fenomena tren penurunan penjualan sektor ritel di wilayah Jakarta telah berhasil diantisipasi oleh kebijakan moratorium mal yang telah dikeluarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta beberapa tahun sebelumnya.

“Akibat kebijakan moratorium pusat perbelanjaan yang berlaku di Jakarta, sisi pasokan berhasil dikontrol selama terjadi penurunan saat ini,” kata Senior Associate Director Research Colliers International Ferry Salanto, dalam rilis paparan properti, di Jakarta, Kamis (14/12).

Menurut dia, berdasarkan data yang dihimpun pihaknya, tingkat okupansi atau keterisian pusat perbelanjaan atau pasar ritel saat ini tercatat berada pada tingkat terendah setidaknya selama 10 tahun terakhir.

Selain itu, ujar dia, pasar ritel saat ini berada dalam periode yang penuh tantangan antara lain karena menurun daya beli masyarakat dan adanya sejumlah gerai terkemuka pada sejumlah mal yang tutup.

Sebagaimana diwartakan, pemerintah perlu memperhatikan kebijakan dalam rangka meningkatkan daya beli masyarakat karena hal tersebut dinilai sangat penting sebagai upaya untuk melesatkan kinerja ritel yang saat ini dinilai sedang melesu.

“Saat ini terjadi penurunan daya beli, dengani kebutuhan meningkat sedangkan ‘income’ (penghasilan) tidak meningkat sepesat biaya kebutuhan,” kata Ferry Salanto pula.

Menurut Ferry, berdasarkan sejumlah kajian seperti dari Nielsen, konsumen ritel saat ini sudah mulai melakukan penghematan dengan menurunkan biaya untuk kebutuhan tersier atau sekunder.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai penutupan dua gerai Matahari Department Store di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai bukan karena menurun daya beli masyarakat, melainkan upaya efisiensi perusahaan.

Usai menghadiri acara Sinkronisasi Kebijakan Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Tahun 2017, Mendag menjelaskan meski kedua gerai tutup, kondisi ritel masih terbilang bagus karena kinerja Matahari Department Store dari tahun ke tahun (year on year) menunjukkan peningkatan pendapatan.

“Bukan karena daya beli. Tolong dilihat, yang ‘year on year’ (y-o-y), pendapatannya masing-masing perusahaan itu naik atau turun. Tidak ada yang turun, jadi tidak ada urusan sama daya beli,” kata Enggartiasto, di Jakarta, Senin (18/9).

Menurut dia, penutupan gerai Matahari tidak membuat kondisi ritel terpuruk, karena harus dilihat dari pembukuan tahunan yang menunjukkan peningkatan pendapatan dan laba bersih y-o-y.

Ia mengakui jika pusat perbelanjaan di beberapa lokasi sepi karena ada pergeseran minat masyarakat yang fokus di kawasan Sudirman, SCBD hingga Thamrin untuk lokasi utama belanja (Ant).

Lihat juga...