Museum Taman Prasasti Jadi Alternatif Tempat Liburan

JAKARTA – Di masa liburan seperti sekarang ini, pernahkah terpikirkan pergi liburan ke kuburan? Sepintas ide tersebut terdengar aneh dan ekstrim. Liburan biasanya dilakukan dengan pergi ke tempat-tempat yang indah nan menyenangkan. Tapi kalau sudah ke Museum Taman Prasasti tentu Anda akan jadi senang karena memang bisa melihat makam dengan patung-patung yang indah.

Adapun, bagi yang suka berfoto selfie tentu akan langsung melonjak-lonjak kegirangan dan akan berfoto selfie sepuas-puasnya. Bahkan di makam ini sering untuk dijadikan tempat pre-wedding maupun shooting video klip. Museum Taman Prasasti bisa menjadi alternatif pilihan untuk tempat liburan.

Terletak di Jalan Tanah Abang No1 Jakarta, museum yang memuat konten budaya yang kaya dan tidak biasa bisa kita temukan. Dari nama yang disandangnya, Museum Taman Prasasti, kita tentu sudah dapat membayangkan banyak prasasti di dalamnya.

“Sebelum menjadi museum, tempat ini awalnya merupakan pemakaman yang bernama Kebon Jahe Kober, “ kata salah seorang penjaga Museum Taman Prasasti Wahyono kepada Cendana News, Sabtu (30/12/2017).

Lebih lanjut, Wahyono menerangkan, pada 9 Juli 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober dijadikan museum. Taman Prasasti dibuka untuk umum dengan koleksi prasasti, nisan, dan makam sebanyak 1.372 yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu. “Museum diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1977, “ terangnya.

Menurut Wahyono, museum unik ini menyimpan koleksi nisan yang sebagian besar dipindahkan dari pemakaman Nieuw Hollandse Kerk pada awal abad 19. Nisan yang dipindahkan ini ditandai dengan tulisan HK atau Hollandsche Kerk.

“Semula Museum Taman Prasasti dulunya pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober seluas 5,5 hektare dan dibangun tahun 1795 untuk menggantikan kuburan lain di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk. Karena perkembangan kota, luas museum ini kini menyusut tinggal hanya 1,2 hektare saja,” tambahnya.

Meski museum tersebut terkait dengan kematian, tapi banyak orang yang datang mengunjungi. Museum mulai ramai sejak 2005, sejak tembok yang mengelilingi museum diruntuhkan. Sekarang sekeliling museum hanya diberi pagar transparan sehingga orang bisa melihat ke dalam museum dari luar.

“Kami memang ingin menghilangkan stigma bahwa museum ini menakutkan. Kami ingin masyarakat mengenal tempat ini sebagai museum bersejarah bukan sekadar kuburan saja,” tambah Wahyono.

Nisan makam Soe Hok Gie di Musem Prasasti – Foto Akhmad Sekhu

Disini ada makam Soe Hok Gie (17 Desember 1942 – 16 Desember 1969), yang nisannya indah sekali. Sebuah nisan berbentuk malaikat yang menundukkan kepala dan mengatupkan kedua telapak tangannya, seakan-akan memanjatkan doa pada nama yang tertera di batu marmer nisan di bawahnya.

Gie wafat pada tanggal 16 Desember 1969 di ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut, di puncak gunung tertinggi di Jawa, gunung Semeru, satu hari sebelum perayaan hari kelahirannya yang ke-27. Gunung adalah tempatnya berlari. Bukan untuk bersembunyi tapi untuk mencari energi, energi untuk terus hidup di negeri yang belum lama merdeka ini. Di nisannya, terukir lirik lagu yang sering dinyanyikannya semasa hidup yang memang menjadi lagu spiritual perjuangan budak kulit hitam Amerika pada abad ke-19. Nobody knows the troubles I see. Nobody knows my sorrow. Tak ada yang lebih sendu dari ini.

Museum ini memang menampilkan karya seni dari masa lampau tentang kecanggihan para pematung, pemahat, dan sastrawan yang menyatu dalam satu kompleks museum. Seperti pada museum-museum lainnya di Jakarta, museum yang pengelolaannya berada dalam satu manajemen dengan pengelola Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah ini beroperasi setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore, dan tutup di Senin dan hari libur nasional.

Lihat juga...