Myanmar Akhirnya Bebaskan Dua Wartawan Penyiaran Turki

NAYPYIDAW – Myanmar akhirnya membebaskan dua wartawan media penyiaran asal Turki yang ditahan bersama dengan dua pendampingnya, Jumat (29/12/2017). Pembebasan dilakukan setelah keempat orang tersebut menjalani masa hukuman sesuai dengan vonis dari hakim.

Dua orang wartawan tersebut adalah kameramen Lau Hon Meng yang berasal dari Singapura dan peliput Mok Choy Lin yang berasal dari Malaysia. Keduanya ditahan bersama dengan Aung Naing Soe seorang wartawan lokal Myanmar yang bertugas sebagai penterjemah dan seorang sopir bernama Hla Tin. Keempat orang tersebut telah menjalani masa hukuman dua bulan sesuai dengan vonis dari pengadilan setempat.

Keempatnya di dakwa melakukan pelanggaran pidana berkaitan dengan undang-undang pesawat yakni membuat film dengan pesawat nirawak. Keempatnya dibebaskan dari penjara Yamethin yang berada di dekat Ibu Kota Naypyitaw. Polisi menahan kedua wartawan tersebut, yang bertugas di stasiun televisi TRT World, dan dua pria Myanmar itu pada 27 Oktober, ketika mereka mencoba menerbangkan pesawat nirawak di dekat gedung parlemen Myanmar.

Pengadilan menghukum mereka dua bulan penjara di bawah Undang-Undang Anti-Pesawat Terbang masa penjajahan. Keempatnya sampai minggu ini juga menghadapi tuduhan tambahan mengimpor pesawat nirawak tersebut, dan kedua orang asing tersebut juga menghadapi tuduhan imigrasi.

“Kami membebaskan Aung Naing Soe dan kru pada pukul 07.20 hari ini (Jumat, 29/12/2017, waktu setempat) karena imigrasi dan polisi telah menjatuhkan tuntutan. Mereka telah menjalani hukuman penjara dua bulan mereka di bawah Undang-Undang Anti-Pesawat Terbang,” kata Kepala Penjara Yamethin, Aung Myo Chun, Jumat (29/12/2017).

Sebelunmya kepolisian setempat mengatakan, diperintahkan membatalkan tuntutan kepada keempatnya. Pembatalan dilakukan karena keempat orang tersebut dinilai tidak bermaksud merusak keamanan nasional. Dan harapannya dengan pembebasan tersebut dapat dilakukan perbaikan hubungan antara Myanmar dengan negara asal kedua wartawan tersebut yakni Singapura dan Malaysia.

Dilaporkan, bahwa kedua warga negara asing tersebut sudah meninggalkan penjara Yamethin dengan mobil. Sementara Aung Naing Soe dan Hla Tin keluar dari kompleks penjara. Belakangan, Aung Naing Soe mengatakan melalui telepon bahwa pembebasan yang didapatkan merupakan berita yang mengejutkan.

“Kami telah ditangkap secara tidak terduga, dan sekarang kami sangat senang bisa dibebaskan secara tidak terduga seperti ini. Kami tidak tahu bahwa kami akan dilepaskan di pagi hari hingga tadi malam (Sehari sebelum pembebasan),” tambahnya.

Kasus tersebut terjadi di tengah ketegangan antara mayoritas Muslim Myanmar dan sebagian besar negara Muslim seperti Turki dan Malaysia mengenai perlakuan Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya tanpa kewarganegaraan.

Pada awal September, Presiden Turki Tayyip Erdogan menuduh Myanmar melakukan pembantaian besar-besaran di negara bagian Rakhine, sebuah tuduhan yang disangkal oleh Myanmar. PBB mengatakan, sekira 655 ribu orang Rohingya telah meninggalkan Rakhine ke Bangladesh sejak militer melancarkan tindakan keras terhadap militan di negara bagian tersebut pada akhir Agustus lalu.

Dua wartawan Reuters, yang meliput kejadian di Rakhine, ditangkap pada 12 Desember dan masih dalam tahanan karena tuduhan melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi, yang juga merupakan bagian dari aturan kolonial Inggris di Myanmar. Keluarga wartawan Reuters mengatakan, bahwa wartawan bernama Wa Lone (31) dan Kyaw Soe Oo (27), memberitahukan kepada keluarga, bahwa mereka ditangkap segera setelah diberi beberapa dokumen oleh polisi, yang mengundang mereka untuk sebuah pertemuan. (Ant)

Lihat juga...