“Nasi Rasul” dalam Tradisi Maulid Nabi di Lombok

MATARAM — Pada masyarakat Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) maulid Nabi atau perayaan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, tidak saja dirayakan dalam bentuk kegiatan acara pengajian di masjid tetapi juga dirayakan dengan menghidangkan masakan dan aneka jajanan lokal atau dalam bahasa Lombok disebut pesajiq.

Kuliner khas tersebut disuguhkan dan dibawa pulang para tamu undangan sebagai oleh-oleh usai acara pengajian dilaksanakan.

Salah satu masakan yang dibuat masyarakat adalah “nasi rasul” sebagai menu yang wajib ada diselipkan dalam setiap keresek plastik pesajiq yang diberikan kepada tamu undangan.

“Nasi rasul itu wajib ada, sebagai bentuk kesukuran dan rasa gembira dan suka cita umat Islam atas kelahiran Nabi Muhammad SAW,” kata Fatimah, warga Desa Banyu Urip, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu (9/12/2017).

Sahirudin, salah satu tokoh agama masyarakat Kabupaten Lombok Tengah mengatakan, menurut cerita orang tua tempo dulu, nasi rasul sendiri sudah ada sejak nenek moyang tempo dulu dan tetap dibuat hingga sekarang di setiap perayaan maulid.

Foto : Fatimah menunjukkan “nasi rasul” yang sudah siap disajikan/Foto : Turmuzi

Nasi rasul sendiri termasuk jenis kuliner maulidan banyak disukai masyarakat, karena rasanya yang lezat. Dibuat dari beras ketan yang bisa digunakan untuk bahan pembuatan jajan.

Untuk membuat nasi rasul sendiri cukup mudah, beras ketan terlebih dahulu dikukus selama 10 hingga 15 menit, setelah itu diangkat dan dibiarkan dingin.

Setelah itu beras ketan kemudian diaduk dengan perasan air santan kelapa dicampur air kunyit, sehingga beras ketan berwarna kuning.

Setelah nasi rasul jadi tinggal ditaruhkan parutan kelapa tua yang telah digoreng dengan campuran bawang merah dan putih di atasnya, termasuk daging yang dipotong menjadi bagian kecil-kecil. Nasi rasul siap disajikan.

Lihat juga...