Nasib Pedagang Tradisional di Era Belanja Online

PADANG – Para pedagang tradisional seakan mulai kehilangan pangsa pasar, semenjak lahirnya transaksi secara online yang kebanyakan konsumennya merupakan orang-orang yang hidup di zaman serba teknologi.

Bahkan, akibat adanya belanja online tersebut, penjualan para pedagang tradisional menurun hingga 50 persen. Hal ini turut dirasakan oleh Sari salah seorang pedagang tradisional yang bergerak dari menjual makanan sambal di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

Ia menyebutkan, jualannya benar-benar terasa sepi pembeli. Hal ini bukan hanya soal sepi pesanan, tetapi juga tidak begitu banyak pembeli yang mampir ke lapak dagangannya. Akibatnya, penghasilan dari penjualan Sari pun menurun hingga 50 persen per hari.

“Dulu, makanan-makanan yang saya jual ini, baru saja sekira jam 3 siang, seluruhnya sudah habis. Tapi, sekarang, tak jarang barang dagangannya harus jadi mubazir, karena hanya sebagian kecil orang yang masih membeli barang dagangannya,” katanya, Selasa (19/12/2017).

Ia menyatakan, persoalan menurunnya penjualan barang dagangannya itu, jelas akibat dari adanya belanja online. Seperti halnya, soal ojek yang bisa membeli pesanan konsumen dari aplikasi yang digunakan.

“Saya tidak bisa dan tidak paham soal berdagang secara online itu. Bukan saja tidak mau belajar untuk mengikuti zaman. Tapi, saya menilai lebih cepat dan aman bertransaksi secara langsung,” ujarnya.

Ia mengaku, pernah berpikir untuk menjalani usaha jenis lainnya, yang bisa mendatangkan pelanggan dan penjualan yang bagus. Hanya saja, ia masih khawatir untuk meninggalkan usaha jualan makanan itu, mengingat masih ada pelanggan setia, yang selalu datang ke lapak dagangannya.

“Memang penjualan menurun, tapi pelanggan setia masih ada. Cuma itu pun tidak banyak, maka dari itu saya merasa hilang pelanggan, akibat kemajuan zaman dalam berbelanja,” tegasnya.

Tidak hanya Sari, Uni Dewi pun menyatakan bahwa tidak hanya soal berjualan makanan yang merasa ditinggalkan pembeli dengan adanya belanja online, tapi pedagang buah dan sayur pun turut merasakan dampak akibat adanya belanja online.

“Setahu saya betul kalau rezeki itu Allah yang mengatur. Cuma, sejak adanya transaksi online itu, benar-benar terasa dampaknya. Kami pedagang tradisional ini, perlahan-lahan bisa mati usahanya,” ujarnya.

Kondisi ini, diakui pedagang telah disampaikan ke Dinas Koperasi dan UMKM serta Dinas Tenaga Kerja agar ada solusi pelatihan peningkatan SDM soal berdagang, cuma belum bisa merata kepada seluruh pedagang tradisional.

“Soal pelatihan ada, cuma dari sepengetahuan saya, hanya sebagian kecil saja yang dapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan itu,” ungkapnya.

Menyikapi persoalan itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Zirma Yusri mengakui, tidak dapat dipungkuri bahwa dengan kemajuan zaman, cara berbelanja pun jadi berbeda. Namun, untuk mengiringi persoalan itu, pihaknya telah melakukan kerjasama dengan pihak usaha belanja online.

“Kita ada bekerja sama soal pelatihan dan pembinaan dari salah satu usaha aplikasi belanja online. Tapi ada kendala juga, pedagangnya sering lupa, dan gagap ilmu teknologi,” katanya.

Menurut Zirma, persoalan persiangan antara pedagang tradisional dengan belanja online itu, memang sulit untuk diberi solusi. Namun, hal yang bisa dilakukan ialah mengikuti perkembangan zaman. Jika alasan sulit menggunakan ilmu teknologi, bisa dibina secara perlahan-lahan.

Lihat juga...