Natal dalam Pidato Pak Harto

JAKARTA — Sebagai Presiden, Pak Harto berpidato dalam merayakan Hari Natal. Bahkan Pak Harto sering menyempatkan untuk hadir, seperti misalnya pada Hari Natal 1986, Pak Harto hadir bersama Ibu Tien Soeharto, Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah beserta nyonya, sejumlah menteri Kabinet Pembangunan, pimpinan Lembaga Tertinggi dan Tinggi Negara, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya.

Pada perayaan Hari Natal 1986 itu hadirin yang memenuhi Balai Sidang Senayan, Jakarta, tenggelam dalam keheningan, dan hanya untaian kalimat terdengar dari ucapan Mgr. Hardjosoemarto MSC, yang memimpin doa untuk keselamatan umat manusia, pada perayaan Natal bersama warga Korpri yang beragama Kristen Protestan dan Katolik.

Dalam pidatonya pada peringatan hari raya umat Kristen itu, Pak Harto menyampaikan bahwa kebahagiaan umat Kristen atas kelahiran Yesus Kristus, Sang Penebus Dosa umat manusia adalah kebahagiaan rohani, kebahagiaan yang terdalam dalam diri manusia dan bersifat abadi.

“Kesukacitaan rohani itu perlu dijadikan kekuatan batin dalam kehidupan berbangsa, agar menambah ketahanan dalam menghadapi berbagai kesulitan dewasa ini, khususnya kesulitan ekonomi, “ katanya.

Suasana Natal diharapkan mampu menebalkan rasa kesetiakawanan di antara sesama manusia. Rasa kesetiakawanan itu pula merupakan ungkapan yang sangat dalam dari pandangan hidup bangsa, Pancasila.

Pancasila adalah jawaban bangsa Indonesia terhadap tantangan sejarah, dan menjadi dasar persatuan dari kesatuan nasional.

“Betapa pentingnya langkah yang telah diambil oleh bangsa, berupa kesepakatan nasional mengenai P4, pelaksanaan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila, dan penegasan Pancasila satu-satunya asas,” bebernya.

Dengan Pancasila, bangsa Indonesia telah meletakkan landasan moral etik, dan spiritual yang kokoh bagi pembangunan nasional golongan beragama berkesempatan memberikan sumbangan sebesar-besarnya kepada negara Pancasila.

Mereka dapat bertemu dan bekelja bahu-membahu dengan tetap memberi penghormatan yang tulus dan ikhlas kepada keimanan masing­masing. Dengan jalan itu pula dikembangkan kerukunan hidup antar umat beragama yang berlain-lainan.

“Saya katakan, bahwa kita dapat menjadi manusia Pancasila yang penuh kesadaran dan sekaligus menjadi umat beragama yang penuh keimanan. Keduanya dapat kita pertemukan tanpa kita mengalami keretakan batin dan kegoyahan iman,” ungkapnya.

“Dengan Pancasila, bangsa Indonesia dapat menjaga yang mengejar kemajuan tetap memiliki moral, menjunjung tinggi etika dan memiliki nilai-nilai spiritual yang menjadikan bangsa Indonesia berbahagia, “ tandasnya.

Presiden Soeharto mengingatkan segenap umat Kristiani, agar perayaan Natal selalu dirasakan sebagai kegiatan pendorong baru untuk menjadi umat Kristen yang baik.

Lihat juga...