Nelayan Jembrana Keluhkan Bantuan Mesin tak Sesuai 

NEGARA – Sejumlah nelayan Kabupaten Jembrana, Bali, mengeluhkan mesin bantuan dari Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), karena tidak cocok dengan sampan mereka.

Kepala Dinas Kelautan Dan Perikanan Jembrana, Made Dwi Maharimbawa, saat dikonfirmasi di Negara, Selasa (26/12/2017), mengatakan, spesifikasi mesin bantuan tersebut sudah diverifikasi dari Kementerian ESDM, sementara pihaknya hanya mendata nelayan dari tingkat dusun hingga desa.

“Verifikasi sudah dilakukan, harusnya kalau nelayan bersangkutan merasa tidak cocok, bisa menolak saat verifikasi atau saat penerimaan,” katanya, didampingi Bupati Jembrana, I Putu Artha, saat menyerahkan mesin tersebut pada 13 Oktober 2017.

Namun, ia mengakui seluruh mesin yang dibagikan kepada nelayan berkekuatan 8,5 PK dari rekanan pemenang tender di pusat. Kepada nelayan penerima bantuan, ia mengingatkan agar tidak menjual mesin tersebut, karena bantuan ini diawasi oleh BPKP yang memegang data lengkap nelayan penerima serta nomer mesinnya.

“Kalau ada yang menjual dengan modus apa pun bisa kena sanksi. Kami di kabupaten sudah memfasilitasi, agar nelayan Jembrana mendapatkan bantuan mesin tersebut, tolong dijaga dan digunakan dengan baik,” katanya.

Pihaknya mengusulkan ke Kementerian ESDM bantuan mesin untuk 2.266 nelayan, namun setelah diverifikasi sebanyak 1.305 nelayan yang dinyatakan lolos. Dari jumlah mesin tersebut didistribusikan ke nelayan di lima kecamatan yang ada di Kabupaten Jembrana, dengan jumlah masing-masing bervariasi.

Salah seorang nelayan dari Desa Pengambengan, Kecamatan Negara yang minta namanya tidak disebutkan, mengaku menerima bantuan mesin dengan kekuatan 8,5 PK. Padahal, sampan kayu yang digunakan maksimal hanya mampu menggunakan mesin 5,5 PK.

Nelayan ini mengatakan, mesin tempel berbahan bakar elpiji itu hanya cocok untuk sampan fiber yang bobot dan ukurannya lebih besar dibandingkan dengan sampan kayu.

Ia mengaku, tidak berani memaksakan diri memasang mesin tersebut pada sampan kayu miliknya, karena khawatir tenggelam. “Selain berat, dorongan mesin yang terlalu besar bisa membuat ujung depan sampan kayu justru menukik ke bawah laut, apalagi kalau ada ombak besar,” katanya.

Menurutnya, saat pengajuan bantuan mesin tersebut lewat kelompok nelayan, dirinya sudah mengisi kebutuhan mesinnya berkekuatan 5,5 PK.

Agar mesin bantuan pemerintah tersebut bisa berfungsi, ia mengatakan, masih mengumpulkan modal untuk membeli sampan berbahan fiber yang harganya mencapai Rp25 juta. (Ant)

Lihat juga...