Optimalkan Potensi Geothermal Indonesia Perlu Bentuk Pusat Riset Unggulan

JAKARTA — Republik Indonesia perlu membentuk pusat riset unggulan nasional dalam rangka mengembangkan dan mengoptimalkan potensi geothermal atau panas bumi di Tanah Air.

“Alangkah hebatnya Indonesia jika bisa memiliki ‘center of excellence’ geothermal,” kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Satya Widya Yudha dalam rilis yang diterima di Jakarta, Sabtu (9/12/2017).

Menurut dia, pusat riset unggulan geothermal tersebut bakal mampu mendorong pengoptimalan energi geothermal yang ada di berbagai pelosok nusantara.

Dengan demikian, lanjutnya, hal tersebut juga bisa membantu mewujudkan konsep ketahanan energi nasional yang menerapkan prinsip berkelanjutan ke depan.

Ia mencontohkan di Amerika Serikat yang dapat mengetahui pemetaan karakteristik dari cadangan geothermal di masing-masing lokasi sehingga dapat dikembangkan secara komersial dengan teknologi yang cocok.

Sebelumnya, Pemerintah Ethiopia menyatakan ketertarikannya untuk mempelajari pengembangan sektor ketenagalistrikan dan energi baru terbarukan khususnya panas bumi dan air yang ada di Indonesia.

Siaran pers Kementerian ESDM menyebutkan ketertarikan tersebut disampaikan Menteri Air, Irigasi, dan Ketenagalistrikan Ethiopia Seleshi Bekele dalam kunjungannya ke Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, awal Desember 2017.

Dalam kunjungan itu, delegasi Ethiopia memberikan apresiasi sekaligus ingin menggali informasi langkah-langkah sukses Indonesia dalam meningkatkan percepatan rasio elektrifikasi.

Pemerintah Ethiopia saat ini tengah merestrukturisasi sektor kelistrikan dengan fokus meningkatkan rasio elektrifikasi.

Menanggapi hal itu, Jonan menjelaskan selama dua tahun terakhir, Pemerintah Indonesia fokus meningkatkan rasio elektrifikasi, mulai dari pembangunan pembangkit, perluasan jaringan PT PLN (Persero), pembangunan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) di luar jaringan (off grid), serta program lampu tenaga surya hemat energi (LTSHE).

Menteri ESDM juga mengungkapkan saat ini rasio elektrifikasi di Indonesia mencapai 93,5 persen dengan kapasitas pembangkit listrik nasional sebesar 60,1 Giga Watt (GW) atau naik 7,1 GW dalam tiga tahun terakhir dibandingkan 2014 sebesar 53 GW.

Sementara untuk pembangkit yang bersumber dari EBT, Jonan menerangkan sejak awal 2017 hingga saat ini, 1.186 MW pembangkit listrik EBT telah ditandatangani. “Hingga akhir tahun, kapasitasnya diharapkan mencapai 1.500 MW,” kata Jonan.[Ant]

Lihat juga...