Orde Baru Lahirkan Pers Pancasila

JAKARTA — Pers berperan besar dalam dinamika perkembangan sebuah bangsa. Meski bukan perintis pergerakan, namun pers punya kontribusi besar dalam menyampaikan berita-berita setiap perkembangan dilalui negeri ini.

Peran pers juga mampu memacu semangat kerja masyarakat untuk turut memberi sumbangsih kontribusi dalam pembangunan negeri ini dan memberi pengaruh besar dalam kehidupan sosial masyarakat.

Pada Kamis, 28 Desember 1967, sebagaimana yang dilansir Soeharto.co, Presiden Soeharto berbuka puasa bersama dengan para wartawan Jakarta.

Dalam kata sambutannya pada acara tersebut, Pak Harto mengatakan bahwa antara pemerintah dan pers harus lebih sering mengadakan komunikasi dan konsultasi sehingga dapat dihindarkan terjadinya kesalahpahaman.

Peristiwa ini juga masuk dalam buku “Jejak Langkah Pak Harto 01 Oktober 1965 – 27 Maret 1968”, hal 229 yang ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Masa itu awal Orde Baru yang menjadi zaman pemulihan kondisi. Kondisi pasca-Orde Lama dan chaos akibat Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).

Pada zaman Orde Baru dengan Presiden kedua RI Soeharto, pers mengikuti arus sistem “ideologi” dari Demokrasi Terpimpin ke Demokrasi Pancasila, sehingga kemudian lahirlah istilah Pers Pancasila.

Lihat juga...