Paceklik Gelar Akuatik Indonesia Diharap Putus di AG 2018

58
Ilustrasi PRSI - Dokumentasi CDN

JAKARTA Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) mengharapkan pada Asian Games 2018 Indonesia bisa mengakhiri paceklik gelar. Tercatat selama 28 tahun Indonesia belum mampu membawa pulang medali di ajang multi cabang negara-negara Asia tersebut.  

Terakhir kali Indonesia membawa pulang medali di era perenang Ricard Sam Bera. “Kita semua melihat dalam 28 tahun ini Indonesia paceklik gelar, sudah lama kita tak mendapatkan perunggu, perak, apalagi emas. 28 tahun lalu itu zaman Richard Sam Bera dan kawan-kawan, di sini tentu kita berharap pecah telor tersebut,” kata Ketua Umum PB PRSI Anindya Novyan Bakrie, Selasa (5/12/2017).  

Saat ini harapan tersebut terbuka lebar dengan adanya kandidat-kandidat Richard Sam Berra selanjutnya di depan mata. Para atlet yang mendapatkan emas dalam Sea Games 2017 di Kuala Lumpur Malaysia saat ini sedang dipantau. Diharapkan para atlet tersebut bisa meraih prestasi dalam ajang uji coba Asian Games 2018 bertajuk CIMB Niaga Indonesia Open Aquatic Championship 2017.    

Indonesia diketahui berhasil memperoleh empat emas akuatik di Sea Games 2017. Semuanya berasal dari cabang renang seperti I Made Siman Sudartawa (50 meter gaya punggung putra), Triady Fauzi Sidiq (200 meter gaya ganti perorangan), Gagarin Nathaniel Yus (100 meter gaya dada putra) dan Indra Gunawan (50 meter gaya dada putra).  

Dalam ajang ini, ujar Anin, pihaknya selain melihat atlet-atlet elit, tapi juga mempersiapkan atlet pelapis yang tujuan utamanya adalah event-event internasional selepas Asian Games 2018 yakni SEA Games 2019 dan Olimpiade 2020.  

“Kita lihat banyak sekali perenang-perenang muda dan juga dari sektor perempuan yang berpotensi. Ada Azzahra Permatahani, dia salah satu yang terbaik. Tapi gak bisa stop di situ, harus berkelanjutan pembinaannya,” ujar Anin.  

Untuk jangka panjang PRSI menurut Anin, berharap renang dan cabang-cabang akuatik bisa kembali merakyat dengan menjadi bagian kurikulum sekolah. Karena menurut dia, olahraga ini bagaimana pun juga keahlian bertahan hidup bagi masyarakat karena Indonesia merupakan negara kepulauan.  

“Sehingga perlu adanya suatu gerakan sosial di mana kita bisa memasalkan renang seperti gerakan ‘yuk renang yuk’. Kita ajak kerjasama pemimpin Provinsi, daerah untuk meminta pemilik properti, misalkan satu hari dalam tujuh hari bisa ada free satu hari masyarakat renang,” pungkas Anin. (Ant)

Komentar