Pakar: Munaslub Hanya Mengukuhkan Ketum, Roda Demokrasi Golkar “Kurang Manis”

SOLO — Partai Golkar yang tengah dirundung masalah internal, pasca Ketua Umum (Ketum) Setya Novanto duduk di kursi pesakitan, menambah derita partai ini yang kian terombang-ambing. Golkar yang notabenenya partai besar pun “ditantang” berpacu dengan waktu untuk mengejar ketertinggalan, karena survei partai berlambang pohon beringin ini kian hari kian merosot.

Pakar Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Prof Pawito menyebutkan, kondisi Partai Golkar tak lepas dari kelangkaan tokoh pemimpin. Situasi ini, kata dia, sudah terjadi sejak Presiden ke 2 Indonesia, Soeharto lengser pada 1998.

“Di tubuh Golkar itu terjadi kelangkaan pemimpin. Kalangan luas sudah tahu dan itu terjadi sudah lama,” sebut Prof Pawito saat berbincang dengan Cendana News, di ruang Guru Besar FISIP UNS, kemarin.

Menurut Guru Besar UNS ini, kelangkaan pemimpin untuk jadi Ketua Umum sudah terjadi jauh sebelum Soeharto turun pasca reformasi. Sejak Harmoko “didaulat” menjadi Ketua Umum Golkar pada 1993, Golkar, sebut Pawito, sudah mengalami tarik menarik di antara elit partai.

“Sebenarnya dengan mengangkat Harmoko sebagai Ketua Umum, Pak Harto menginginkan agar Golkar lebih dekat dengan rakyat. Kenyataan memang dekat dengan rakyat,” tuturnya.

Namun dengan diangkatkan Harmoko sebagai Ketua Umum yang notabenenya dari kalangan sipil, justru mengakibatkan adanya tarik menarik antarelit Partai Golkar. Bahkan, pasca turunnya Harmoko digantikan Akbar Tanjung (1998), dilanjutkan Jusuf Kalla (Desember 2004), Aburizal Bakrie (Oktober 2009), serta Setya Novanto (Oktober 2017), Golkar sejatinya sudah tidak memiliki sosok pemimpin yang mampu menyatukan partai.

“Ironisnya, tren kepemimpinan Golkar pasca Pak Harto diwarnai dengan suara aspirasi ke Golkar tidak (kurang) apa adanya. Ini terus terjadi hingga Gokar yang sekarang. Pimpinan Golkar mendapatkan aspirasi seperti yang diharapkan, bukan yang sebenarnya,” katanya.

Krisis kepimpinan ini kian terlihat saat kepemimpinan Setya Novanto menjadi Ketua Umum Golkar. Setnov sebutan Setya Novanto yang berulang kali harus berurusan dengan hukum mengakibatkan partai yang berdiri sejak 1964 itu kian “tersandera”. Mulai dari persoalan “papa minta saham”, hingga kasus e-KTP yang “berseri”.

“Saya kira ini adalah runtutan dari tidak adanya sosok pemimpin Golkar. Saya pikir, Munaslub (Musyawarah Nasional Luar Biasa) Golkar nanti hanya dimaknai karena kelangkaan pemimpin itu,” tambah Pakar Politik yang gemar “ngopi” itu.

Termasuk, adanya rapat pleno pimpinan Partai Golkar beberapa waktu lalu yang menunjuk Airlangga Hartato (AH) sebagai Plt Ketua Umum Golkar dan akan dikukuhkan dalam Munaslub pada 18-20 Desember 2017 nanti, merupakan dampak dari kelangkaan pemimpin di tubuh Golkar. Terlepas dari itu, Pawito menandaskan, ada hal yang menarik dalam agenda Munaslub karena hanya akan mengukuhkan AH sebagai ketua umum.

Lihat juga...