Pakistan Izinkan Terpidana Mati Asal India Dikunjungi Keluarga

ISLAMABAD – Pakistan mengizinkan keluarga seorang pria India yang menjadi terpidana mati karena kegiatan mata-mata untuk berkunjung. Izin keluar delapan bulan setelah sanksi pidana hukuman mati dijatuhkan oleh pengadilan militer.

Terpidana tersebut adalah Mantan perwira Angkatan Laut India bernama Kulbhushan Sudhir Jadhav yang ditangkap pada Maret 2016 di Provinsi Baluchistan, Pakistan. Penangkapan dilakukan di daerah terjadinya konflik lama antara pasukan keamanan nasional dan separatis militan.

Kasus tersebut menambah ketegangan hubungan antara dua negara tetangga yang memiliki senjata nuklir tersebut. Indika dan Pakistan selama ini sering saling menuduh melanggar gencatan senjata 2003 satu sama lain di sepanjang perbatasan mereka yang disengketakan di Kashmir. Keduanya terlibat dalam beberapa pertempuran artileri yang cukup intens.

Pakistan merilis foto Istri Jadhav, Chetankul  dan ibunya Avanti, duduk di sebuah meja dan berbicara dengan Jadhav dari balik jendela kaca. “Ibu dan istri Komandan Jadhav duduk dengan nyaman di Kementerian Luar Negeri Pakistan. Kami menjunjung tinggi komitmen kami,” demikian juru bicara kantor Kementerian Luar Negeri Pakistan, Mohammad Faisal, dalam sebuah postingan di Twitter.

Pernyataan tersebut disampaikan sebelum kedua wanita tersebut datang pertama kali ke kementerian di Islamabad. Kantor Urusan Luar Negeri India belum menanggapi permintaan untuk memberikan komentar mengenai pertemuan tersebut.

Setelah Jadhav divonis mati pada April, India meminta Mahkamah Internasional untuk mengeluarkan sebuah perintah yang melarang eksekusi tersebut. Permintaan diajukan dengan alasan bahwa Jadhav bisa mendapat bantuan diplomatik selama India mengatakan pengadilan di Pakistan dinilai berjalan secara tidak adil.

Mahkamah Internasional memerintahkan Pakistan pada Mei untuk menunda eksekusi Jadhav. Mahkamah Internasional mengatakan bahwa Islamabad telah melanggar sebuah perjanjian yang menjamin bantuan diplomatik kepada orang asing yang dituduh melakukan kejahatan.

Otoritas Pakistan menyebut, Jadhav mengaku diperintahkan oleh Dinas Intelijen India melakukan pengintaian dan sabotase di Baluchistan. Upaya tersebut untuk mengacaukan dan berperang melawan Pakistan. Baluchistan berada di pusat proyek pengembangan Belt and Road senilai 57 miliar dolar Amerika Serikat yang didukung China.

Proyek Belt and Road pada awalnya hanya fokus pada perusahaan-perusahaan China yang membangun jalan dan pembangkit listrik. Namun dalam perjalanannya sekarang proyek berkembang dengan pendirian industri. Pengacuan oleh Jadhwav ditargetkan dilakukan kepada proyek yang dibiayai oleh China tersebut. (Ant)

Lihat juga...