Panen Perdana Petani Kedelai Tadah Hujan Ketapang

LAMPUNG — Petani penanam kedelai di Dusun Bangunsari Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan mulai melakukan panen perdana. Panen ini dilakukan setelah umur tanaman usia 75-100 hari, ditandai dengan sebagian kulit buah kedelai mulai berwarna kuning kecoklatan.

Sartono, selaku pengurus Kelompok Tani Subur Jaya I menyebut penanaman kedelai di wilayah tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) yang diberikan kepada sejumlah kelompok tani di Kecamatan Ketapang untuk dikembangkan pada lahan tadah hujan.

Hasil pada panen perdana kedelai bantuan Kementan tersebut diakuinya cukup memuaskan dengan rata rata produksi per orang mencapai 5 hingga 10 kuintal dengan luasan lahan sekitar seperempat hektare.

Proses pengolahan lahan sawah tadah hujan yang dilakukan pada akhir September dan mulai ditanam kedelai pada November memanfaatkan mesin pompa menyedot air dari sungai, sehingga lahan bisa diolah.

Selanjutnya dibuat parit parit sebagai saluran pembuangan air. Tanaman kedelai yang tidak terlalu membutuhkan banyak air tersebut diakuinya ditanam oleh kelompok dengan alokasi bibit sebanyak 8 kuintal. Kedelai ditanam sekitar 21 anggota kelompok yang tersebar di beberapa dusun dengan luasan lahan beragam.

“Penanaman benih kedelai yang merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian dan disalurkan ke kelompok tani memang sangat tepat bersamaan dengan musim penyelang diantara musim tanam gadu dan musim rendeng. Sebelum lahan ditanami padi tetapi khusus di wilayah Bangunrejo secara kebetulan menjadi lahan sawah tadah hujan karena tidak ada sarana irigasi tekhnis cocok untuk pengembangan kedelai,” papar Sartono kepada Cendana News, Rabu (13/12/2017).

Bendahara Kelompok Tani Subur Jaya I tersebut mengungkapkan sebanyak 8 kuintal atau 800 kilogram benih kedelai yang sudah dibagikan ditanam oleh kelompok tani dengan jarak tanam sekitar 5-15 hari.

Hampir anggota kelompok tani binaannya mulai melakukan panen perdana pada pertengahan Desember. Salah satu anggota kelompok tani lain yang sudah melakukan panen dua hari sebelumnya diakui Sartono dengan bibit sekitar 10 kilogram berhasil memperoleh panen sekitar 7 kuintal kedelai.

Anggota kelompok tersebar di sejumlah dusun dengan total luasan
lahan tanaman kedelai mencapai 10 hektare. Rata rata peranggota kelompok mampu menghasilkan panen sekitar 5 kuintal.

Dipastikan keseluruhan dari kelompok itu bisa memperoleh hasil sebanyak 5 ton kedelai belum termasuk kelompok lain di wilayah Kecamatan Ketapang di antaranya di Desa Sumur, Ruguk, Pematang Pasir serta beberapa desa lain.

Seperti di wilayah Kecamatan Penengahan yang mendapat alokasi bantuan bibit kedelai dari Kementerian Pertanian seluas 160 hektare Sartono bahkan menyebut ada sekitar 200 hektare lahan kedelai dari sebanyak 20 kelompok tani di Kecamatan Ketapang untuk penanam kedelai.

“Sebagian lahan yang dikhususkan untuk pengembangan kedelai memang lahan yang kerap susah memperoleh air. Namun mencukupi untuk penanaman kedelai dengan sistem penyedotan air dari sungai sehingga upaya swasembada kedelai bisa tercapai di wilayah Ketapang,” tutur Sartono.

Sementara itu Purwono (68), anggota kelompok tani Subur Jaya I menyebut dirinya memperoleh alokasi benih bantuan kedelai sebanyak 10 kilogram dengan prediksi hasil panen untuk luasan lahan seluas seperempat hektare bisa mencapai 8 kuintal.

Cuaca yang mendukung dengan kondisi tanah berpasir sawah tadah hujan miliknya diakuinya semula merupakan lahan pertanian padi namun dengan adanya upaya khusus swasembada kedelai dan bantuan benih dari Kementan dirinya mengembangkan kedelai termasuk bantuan untuk penanganan hama berupa pestisida.

“Cuacanya cukup bagus sehingga buahnya cukup berisi karena tak ada serangan hama hanya saja penanganan gulma berupa rumput. Saya sempat kewalahan karena telat menyiangi waktu itu banyak pekerjaan dan musim hajatan perawatan kurang maksimal,” paparnya.

Pada musim tanam berikutnya pada awal 2018, pensiunan guru sekolah dasar tersebut mengaku akan menambah bibit kedelai yang semula 10 kilogram akan ditambah menjadi 15 kilogram agar hasil panen kedelai lebih banyak didukung oleh kondisi cuaca dan pasokan air yang cukup memadai.

Harga kedelai yang saat ini berkisar Rp7.000 dengan rata rata panen kedela menghasilkan 500 kilogram saja Purwono bisa mendapatkan hasil sekitar Rp3,5 juta dengan masa tanam kedelai sekitar 80 hari.

Purwono menyebut sebetulnya masih bisa memperoleh hasil maksimal dengan penanganan gulma yang baik sekaligus jarak tanam yang tepat menggunakan pola guludan.

Pendampingan dari pengurus kelompok dan penyuluh pertanian cukup membantu dalam penanganan beberapa jenis hama penyakit dan gulma dalam proses penanaman kedelai yang diakuinya lebih gampang dibandingkan menanam padi dari mulai pengolahan lahan hingga paska panen.

Selain itu keberadaan produsen tempe dan tahu di wilayah tersebut membuat kedelai hasil panen bisa dibeli oleh produsen tempe dan tahu sebagai bahan baku.

Lihat juga...