Panwaslu Klaten Libatkan Guru Tingkatkan Pemilu Partisipatif 

SOLO —  Puluhan guru dan mahasiswa di  Klaten, Solo, Jawa Tengah, dibidik untuk meningkatkan kepedulian  terhadap pesta demokrasi yang sebentar lagi digelar serentak di Indonesia. Salah satunya adalah pemilihan Gubernur Jawa Tengah, yang pada awal Januari 2018 sudah mulai memasuki masa pendaftaran calon.

Komisioner Panwaslu Klaten, Azib Triyanto, menjelaskan, digandengnya guru dan mahasiswa tak lain  untuk meningkatkan partisipasi dalam pengawasan partisipatif pemilu yang akan diselenggarakan di Klaten. Guru dan mahasiswa  diharapkan menjadi front yang bisa mengajak pemilih pemula menjadi pemilih yang cerdas dan menjadi bagian dari pengawasan pemilu.

Komisioner Panwaslu Klaten, Azib Triyanto. -Foto: Harun Alrosid

“Guru dan mahasiswa ini kita bidik untuk menjadi  pengawas pemilu yang berintegritas dan bermartabat,” kata Azib, kepada awak media, Kamis (28/12/2017).

Untuk itu, puluhan guru yang tergabung dalam musyawarah guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan pengurus BEM Perguruan Tinggi se-Kabupaten Klaten, ikut terlibat dalam Fokus Grup Diskusi (FGD) yang diselenggarakan Panwaslu Klaten.

Kegiatan FGD  ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi pengawasan partisipatif yang telah diadakan sebelumnya. “Jadi, sebelumnya mereka (guru dan mahasiswa) sudah  kita sosialisasikan untuk aktif menjadi pengawas partisipatif. Sekaligus untuk  mengajak pemilih pemula untuk cerdas memberikan hak suaranya,” urainya.

Azib menambahkan, mengingat begitu besarnya pengaruh dan peran guru dalam sistem tatanan masyarakat, maka perlu adanya kerja sama  untuk memberikan   edukasi serta pengawasan partisipatif.

“Sehingga, nantinya akan tercipta pesta demokrasi yang bermartabat,” tandasnya.

Pelibatan guru dan mahasiswa  dalam meningkatkan   pengawasan  pemilu partisipatif serta mengajak pemilih pemula mendapat antusias tersendiri. Guru yang notabene sebagai tenaga pendidik yang hampir setiap hari bertemu dengan  siswa, memiliki  peran yang strategis. Pasalnya, dengan sering bertatap muka, guru bisa lansung memberikan pemahaman terhadap pemilih pemula untuk berlaku cerdas dalam setiap pesta demokrasi.

“Tentu ini menjadi keuntungan tersendiri bagi guru, karena bisa bersinggungan langsung dengan pemilih pemula. Intinya adalah bagaimana pemilih pemula ini dapat memberikan hak suaranya dengan cerdas tanpa ada intimidasi atau pun kepentingan lainnya,”  kata Fahrudin Abdul Ghani, salah satu guru di Klaten.

Lihat juga...