PASPI: Sawit Ancam Industri Minyak Nabati Eropa

BANJARMASIN – Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, mengungkapkan tudingan soal berbayahanya perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah salah kaprah.

“Sering kali kita mendengar kelapa sawit dihubungkan-hubungkan dengan isu lingkungan. Padahal, ini hanya akal-akalan kompetitor yang merasa terancam karena begitu berkembangnya komoditas kelapa sawit saat ini,” ujar Tungkot Sipayung di Banjarmasin, Rabu (20/12/2017).

Menurut dia, kampanye semacam itu sangat beralasan, mengingat komoditas kelapa sawit saat ini bisa mengancam perkembangan tanaman minyak nabati lainnya, yaitu kedelai, rapessed dan bunga matahari di wilayah benua Eropa dan Amerika.

Tungkot mengatakan, produktivitas minyak kelapa sawit per hektare lebih tinggi 8-10 kali lipat ketimbang produktivitas minyak nabati lainnya. Karena itu, jika komoditas kelapa sawit terus berkembang bisa menjadi ancaman serius bagi Amerika dan Eropa sebagai ladang pencetak minyak nabati jenis kedelai, rapeseed dan bunga matahari terbesar di dunia saat ini.

Pada 2016, pertumbuhan produksi CPO Indonesia menembus angka 33,5 juta ton. Dengan produksi yang besar tersebut, menempatkan Indonesia menjadi produsen CPO terbesar dunia mengalahkan negara Malaysia dengan kontribusi mencapai 54 persen.

Selain itu, lanjut Tungkot, berkembangnya komoditas kelapa sawit tentunya berdampak positif bagi pemasukan negara. Di 2016 lalu penerimaan pemerintah dari bea keluar minyak sawit mencapai Rp111,6 triliun.

Melihat fakta tersebut, Tungkot berharap masyarakat jangan mudah terhasut isu negatif komoditas kelapa sawit. “Namun harusnya kita bisa mendukung agar bisnis komoditas kepala sawit bisa berkembang dan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan negara,” tegasnya.

Lektor Kepala Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarbaru, Gusti Rusmayandi, menambahkan, banyaknya kampanye hitam terhadap komoditas kelapa sawit di Indonesia karena masih kesulitan dalam memproduksi minyak nabati kelapa sawit.

Di dunia, kata dia, hanya beberapa negara yang cocok ditanami komoditas kelapa sawit, salah satunya Indonesia. Sementara untuk wilayah Eropa dan Amerika kurang cocok, karena tidak termasuk daerah tropis.

“Karena itu, wajar mereka gencar berkampanye negatif terkait kelapa sawit. Mengingat jika terus berkembang komoditas ini, dapat mendorong kerugian bagi pihak-pihak tertentu,” tambahnya.

Gusti Rusmayandi juga tidak sepakat soal tuduhan komoditas kelapa sawit merusak eksositem alam dan ikut menyumbang pemanasan global karena tanpa alasan mendasar.

Ia malah berasumsi, hasil produksi kelapa sawit, bisa dibuat biodisel yang lebih ramah lingkungan ketimbang minyak bumi.

“Selain itu juga komoditas kelapa sawit bisa dibuat berbagai produk turunan yang sangat bermanfaat di masyarakat. Bahkan, ada juga kini perusahaan yang bisa mengintegrasikan ampas perkebunannya untuk dijadikan pakan ternak,” kata Gusti.

Lihat juga...