PBB: Pengungsi Suriah di Lebanon Makin Miskin pada 2017

BEIRUT — Lebih dari separuh pengungsi Suriah di Lebanon hidup dalam kemiskinan parah dan lebih dari tiga-perempat berada di bawah garis kemiskinan, demikian temuan dalam satu studi PBB baru-baru ini.

Laporan 2017, “Vulnerability Assessment of Syrian Refugees di Lebanon (VASyR), studi tahunan oleh Komisariat Tinggi PBB urusan Pengungsi (UNHCR), Dana Anak PBB (UNICEF) dan Program Pangan Dunia (WFP), mengungkapkan 58 pesen rumah tangga hidup dalam kemiskinan parah dengan penghasilan harian kurang dari 2,87 dolar AS per orang. Jumlah tersebut pada 2016 ialah 53 persen.

Selain itu, pengeluaran bulanan per kapita bagi pengungsi berjumlah hanya 98 dolar, 44 dolar di antaranya dibelanjakan untuk makanan.

“Pengungsi Suriah di Lebanon nyaris tak bisa bertahan hidup,” kata Mireille Girard, wakil UNHCR di Lebanon, Rabu pagi (27/12).

“Kebanyakan keluarga sangat rentan dan tergantung atas bantuan dari masyarakat internasional. Tanpa dukungan yang terus-menerus, kondisi mereka akan bertambah parah, terutama pada musim dingin, ketika perjuangan mereka bertambah berat akibat kondisi buruk,” tambah wanita pejabat itu.

Survei tersebut juga mengungkapkan hanya 17 pesen orang tua pengungsi telah menyelesaikan semua langkah pendaftaran kelahiran buat anak mereka.

Sementara itu, kondisi rawan pangan masih sangat tinggi, dengan 91 persen rumah tangga yang terpengaruh sampai tingkat tertentu, saat sebagian besar rumah tangga menyatakan mereka telah memangkas pengeluaran untuk makanan (79 persen) atau membeli makanan secara kredit (77 persen).

Lihat juga...