PBB Perkuat Peringatan Atas Tragedi kemanusiaan di Rohingya

JENEWA – Pejabat tinggi hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan tidak akan terkejut jika pengadilan pada suatu hari memutuskan bahwa telah terjadi pemusnahan terhadap suku kecil Muslim Rohingya di Myanmar.

Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia PBB Zeid Ra’ad al-Hussein mengatakan, serangan terhadap Rohingya terjadi melalui proses yang direncanakan, “dipikirkan dan direncanakan dengan baik,”  tandasnya, Senin (18/12/2017).

Hussein menyebut gerakan di Rohingya sebagai contoh nyata pembersihan suku. “Unsur itu menyarankan Anda tidak dapat mengesampingkan kemungkinan tindakan genosida telah dilakukan. Sangat sulit untuk menetapkannya karena ambang atas yang tinggi. Tapi itu tidak mengejutkan saya di masa depan jika pengadilan membuat temuan seperti itu berdasarkan apa yang kita lihat,” tandasnya.

Sementara tanggapan Myanmar membantah melakukan kekejaman terhadap etnis Rohingya dan menolak kritik PBB dengan menyebut penilaian yang dilakukan adalah politisasi dan keberpihakan. Serta pernyataan militer Myanmar yang mengatakan tindakan keras tersebut adalah operasi kontra-pemberontakan yang sah, disebut Hussein sebagai tanggapan sembrono.

Dikkhawatirkannya kelompok gerilyawan dapat terbentuk di kamp-kamp pengungsian besar di Bangladesh. Dan bukan tidak mungkin kelompok yang terbentuk bisa melancarkan serangan di Myanmar dengan menjadikan kuil sebagai target serangan.

Hanya saja belum dapat diketahui pengadilan mana yang bisa menuntut dugaan kekejaman di Rohingya. Myanmar bukan anggota Pengadilan Pidana Internasional, jadi rujukan ke pengadilan tersebut dapat dilakukan hanya oleh Dewan Keamanan PBB. Tapi sekutu Myanmar, China bisa memveto rujukan semacam itu.

PBB mendefinisikan genosida sebagai tindakan yang dimaksudkan untuk menghancurkan kelompok nasional, etnis, ras atau agama secara keseluruhan atau sebagian. Penunjukan seperti itu jarang ditemukan dalam hukum internasional, namun telah digunakan dalam kontek tertentu termasuk apa yang terhadi di Bosnia, Sudan dan sebuah kampanye kelompok IS melawan komunitas Yazidi di Irak dan Suriah.

Hampir 870.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, termasuk sekitar 660.000 orang yang tiba setelah 25 Agustus 2017 lalu, ketika gerilyawan Rohingya menyerang pos keamanan dan tentara Myanmar melancarkan serangan balasan. Penyelidik PBB telah mendengar kesaksian Rohingya tentang pola pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan dan pembakaran yang konsisten dan metodis.

Zeid mengatakan bahwa dia telah menelepon Suu Kyi pada bulan Januari, meminta dia untuk menghentikan operasi militer tersebut. Pemerintahan sipil pimpinan peraih Nobel Perdamaian Suu Kyi yang berusia dua tahun telah menghadapi kritik internasional yang besar atas tanggapannya terhadap krisis tersebut. Meski tidak memiliki kendali atas para jenderal, Suu Kyi harus berbagi kekuasaan dengan para jenderal di bawah pemerintahan peralihan Myanmar yang telah berjalan puluhan tahun. (Ant)

Lihat juga...