Pelaku Industri Yakini Sektor Komoditas 2018 Membaik

SINGAPURA – Direktur Corporate Affairs Asian Agri Fadhil Hasan meyakini sektor komoditas Indonesia mampu tumbuh lebih baik di 2018. Bahkan sekot tersebut diyakini mampu mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Umumnya harga komoditas sudah mulai recover. Tahun depan mungkin masih akan berlanjut, namun tidak akan mencapai sebesar beberapa tahun lalu,” kata Fadhil, Jumat (8/12/2017).

Peneliti di The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) tersebut juga mengatakan bahwa kinerja sektor komoditas memiliki hubungan dengan harga minyak dunia. Sementara itu, fluktuasi harga minyak dunia dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global.

“Ekonomi global diperkirakan akan membaik. Harga minyak itu memang berkaitan dengan geopolitik global,” kata Fadhil.

Kepala Komunikasi Korporat PT Royal Golden Eagle Indonesia, Ignatius Ari Djoko Purnomo menilai, tantangan di sektor komoditas tidak lepas dari tantangan lingkungan terkait pengelolaan sumber daya alam. “Saya kira yang menentukan ke depan, tidak hanya volume produksi namun juga keberlanjutan,” kata dia.

Ignatius mengatakan Asian Agri, yang menjadi bagian kelompok usaha Royal Golden Eagle akan fokus membuat komoditas berkelanjutan. “Misalnya sawit, kami sedang menuju pengelolaan sawit yang lestari. Ini yang dibutuhkan pasar di luar, mereka berani bayar dengan harga yang lebih tinggi kalau produk minyaknya lestari,” ucap dia.

Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), industri sawit menyumbang devisa sebesar 18,1 miliar dolar AS pada 2016 dengan volume ekspor sebanyak 25,1 juta ton. Pada 2017 hingga semester pertama volumenya menjadi 16,6 juta ton atau naik dari periode sama di 2016 yang hanya 12,5 juta ton.

Sawit juga menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp239,4 triliun dari total kontribusi sektor perkebunan nasional senilai Rp411 triliun. Sebelumnya, pemerintah dalam APBN 2018 menetapkan asumsi dasar ekonomi makro antara lain pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5,4 persen dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan berada pada Rp13.400 per dolar AS.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam kuliah umum dalam di sebuah acara yang diselenggarakan oleh organisasi kemasyarakatan Pro Jokowi (Projo) beberapa waktu lalu mengatakan bahwa harga komoditas tahun depan masih belum pasti karena tergantung kondisi global.

“Kebijakan moneter negara maju sekarang mulai masuk pada kebijakan lebih normal setelah 2008 hingga 2016 melakukan kebijakan loose untuk meningkatkan ekonomi dunia yang lesu akibat krisis,” ucap dia.

Menkeu juga menilai proteksionisme yang ditunjukkan Presiden AS Donald Trump memberikan impresi inward-looking yang kemudian mengurangi kemampuan negara yang mengandalkan ekspor. (Ant)

Lihat juga...