Pembangunan Infrastruktur Tak Menyerap Tenaga Kerja

Ekonom INDEF, Bhima Yudisthira Adhinegara. Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA – Ekonom Instituts for  Development  of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mencatat pembangunan infrastruktur sepanjang 2017 baru 2 persen yang sudah selesai. Jadi masih sangat kecil sekali dari 245 proyek infrastruktur nasional yang tercatatkan.

Sementara anggaran untuk membangun infrastruktur yang dialokasikan sangat besar.  Pada 2014, porsi belanja infrastruktur hanya 8,7 persen terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pada 2017, angka ini kemudian naik lebih dari 2 kali lipat  menjadi 18,6 persen.

“Namun sayangnya, pembangunan infrastruktur tersebut menuai problem karena tidak berdampak pada penyerapan tenaga kerja,” kata Bhima kepada CendanaNews di Jakarta, Sabtu (30/12/2017).

Bhima menyebut, data terakhir menyebutkan, penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi hanya mencapai 6,4 persen pada 2017 ini. Sedangkan pada 2016, penyerapannya di kisaran angka 6,7 persen. Karena penyerapan tenaga kerjanya kurang optimal, maka target untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur sulit terealisasi.

“Padahal seharusnya, ketika infrastruktur dibangun, permintaan tenaga kerja itu naik. Begitu juga industri lokal seperti besi, baja dan semen terdongkrak,” tandasnya.

Tapi fakta yang dilihat Bhima, industri lokal mengalami penurunan. Tercatat konsumsi semen secara nasional periode Januari-Juni 2017 menurun 1,3 persen dari 29,4 juta ton menjadi 28,9 juta ton. Kondisi pabrik semen mengalami kelebihan kapasitas karena tidak terserap oleh pasar. “Ada yang nggak nyambung antara infrastruktur dibangun ke pertumbuhan ekonomi,” tukas Bhima.

Lihat juga...