Pembudidaya Rumput Laut Legundi Panen Raya Jelang Akhir Tahun

LAMPUNG — Pembudidaya rumput laut di Dusun Sukabandar Desa Legundi Kecamatan Ketapang mulai melakukan panen raya rumput laut alam jenis Spinosum (Sp) jelang akhir 2017. Mereka memetik hasil setelah melakukan budidaya selama kurang lebih satu bulan.

Amran Hadi salah satu pembudidaya rumput laut di wilayah tersebut mengaku panen rumput laut jenis spinosum pada pertengahan bulan Desember ini merupakan panen yang cukup melimpah dengan luasan lahan yang lebih luas dari masa tanam sebelumnya.

Budidaya rumput laut sempat mengalami kerugian pasca bencana alam gelombang tinggi dampak siklon tropis dahlia yang melanda wilayah tersebut. Siklon itu menyebabkan tercabutnya tiang pancang untuk penambatan jalur meski proses perbaikan dilakukan sekaligus penyulaman dengan tanaman baru.

Sejak September Amran membudidayakan sebanyak 500 kuintal jenis spinosum dengan sebanyak 100 jalur, masing masing sepanjang 40 meter. Selanjutnya budidaya rumput lautnya berkembang menjadi 500 jalur hingga kini sudah mencapai 6000 jalur.

“Hari ini kita angkat sebanyak dua ratus jalur untuk selanjutnya kita jemur di atas para para sementara dua hari sebelumnya juga sudah panen sebanyak dua ton lebih yang akan dikirim langsung ke penampung besar di Panjang Bandarlampung,” ungkap Amran saat ditemui Cendana News, Senin (18/12/2017)

Panen raya rumput laut alam jenis spinosum tersebut sekaligus proses berkelanjutan dengan melakukan penanaman kembali pada jalur yang ada di lahan seluas lebih dari empat hektare. Penanaman dilakukan menggunakan sistem bentangan dengan total sekitar 6000 jalur, untuk target panen pada awal 2018 dengan permintaan sebanyak 40 ton untuk pangsa pasar ekspor.

Sebanyak 30 pekerja wanita dan 10 pekerja laki laki dikerahkan untuk mempercepat proses pemanenan rumput laut spinosum. Mereka mempunyai tugas mengikat bibit rumput laut yang akan ditanam ulang. Sementara hasil panen langsung dijemur pada para para bambu yang saat ini berjumlah 50 para para.

Meningkatnya hasil panen membuat ia menyebut membutuhkan sebanyak 50 para para bambu untuk dipergunakan sebagai tempat menjemur rumput laut.

“Para pekerja wanita bertugas memanen dan mengikat bibit, sementara para pekerja laki laki mengambil rumput laut di jalur dengan perahu sekaligus melakukan penyulaman pelampung dan tanaman yang rusak,” beber Amran Hadi.

Penggunaan tenaga kerja tersebut mendukung penyerapan tenaga kerja. Dengan upah sebesar Rp3000 per jalur, sebagian ibu rumah tangga memiliki penghasilan harian dari memanen dan mengikat bibit rumput laut.

Dengan total penghasilan rata rata sebesar Rp50.000 setengah hari bahkan bisa lebih cepat. Bagi kaum laki laki yang bekerja memasang jalur di laut dengan perahu Amran Hadi menerapkan sistem upah harian sebesar Rp100 ribu.

Berkat penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak ia menyebut ikut memberi penghasilan kepada puluhan kaum wanita di desa tersebut dengan upah dikeluarkannya perhari mencapai Rp3juta untuk para pekerja.

Hasil panen yang melimpah tersebut diakui Amran Hadi didukung oleh kondisi cuaca yang baik sekaligus ketahanan tanaman rumput laut alam jenis spinosum dibandingkan rumput laut jenis cottonii yang pernah ditanamnya dan sempat mengalami kegagalan.

Usia panen selama 25- 30 hari dengan pola panen berjenjang rata rata 300 jalur per hari membuat ia melakukan penanaman secara bertahap sekaligus agar proses pemanenan dilakukan secara berkelanjutan.

“Selama empat tahun membudidayakan rumput laut saya terus belajar agar bisa melakukan panen setiap hari caranya melakukan penanaman beda hari dengan jumlah terus ditambah kini mencapai ribuan jalur dan hasilnya maksimal,” terang Amran.

Banjir panen rumput laut tidak ikut mempengaruhi harga. Pembudidaya rumput laut hanya ada di beberapa titik di wilayah tersebut. Mereka tergabung dalam kelompok pembudidaya rumput laut Sinar Semendo I.

Dengan proses penanaman berkelanjutan jenis rumput laut spinosum yang memiliki harga stabil pada level harga Rp4.000 per kilogram atau dengan hasil panen rata rata per ton dirinya bisa menghasilkan sekitar Rp4 juta perton dalam waktu satu bulan.

“Kita ada pesanan sekitar dua kontainer dengan total masing masing 20 ton untuk awal tahun sehingga sekarang sedang menambah jalur dan tiang pancang seribu jalur lagi,”cetus Amran Hadi.

Budidaya rumput laut berkelanjutan dengan pemisahan usia tanam berbeda diakui Amran idukung permodalan yang kuat dari investor dan juga modal pribadi.

Dalam penanaman rumput laut ribuan jalur ia menghabiskan modal ratusan juta meski disebutnya permintaan yang kontinu hasil panen membuat modalnya bisa kembali.

Pemberdayaan pembudidaya rumput laut dan penyerapan tenaga kerja agar tidak bekerja keluar daerah diakuinya mendorong ia terus menambah jumlah budidaya rumput laut di pesisir Timur Lampung tersebut.

Armiana , salah satu pekerja yang membuat para para bambu dan beberapa wanita lain yang bekerja mengikat rumput laut bibit dan panen menyebut kerap mengambil upah sepekan sekali.

Rata rata mereka memperoleh sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu untuk pekerjaan memanen dan mengikat dan sebagian bertugas menjemur rumput laut pada para para bambu.

Selain mengisi waktu kekosongan pekerjaan tersebut diakuinya ikut memberi penghasilan bagi keluarganya dengan adanya pekerjaan harian menanam rumput laut, memanen pada lahan milik Amran Hadi.

“Beberapa wanita di sini bekerja sebagai pencari kerang dan petani namun saat panen dan penanaman rumput laut upahnya menjanjikan dibandingkan mencari kerang,” terang Armiana.

Ia juga berharap dengan budidaya rumput laut yang berkembang di Desa Legundi bisa memberi penghasilan bagi pembudidaya rumput laut, sekaligus bagi masyarakat sekitar yang bekerja sebagai buruh tanam dan panen rumput laut.

Sebagian warga yang memiliki modal cukup bahkan sebagian ikut mengembangkan budidaya rumput laut di wilayah pesisir Timur Lampung Selatan tersebut sebagai sumber penghasilan bulanan.

Puluhan ibu rumah tangga ikut bekerja menanam dan memanen rumput laut sebanyak 2 ton lebih -Foto: Henk Widi.
Lihat juga...