Pemerintah Libatkan Koperasi Percepat Penyaluran KUR

MAUMERE – Terdapat skema baru kredit usaha rakyat (KUR), di antaranya kelompok usaha sebagai penerima KUR dimungkinkan anggota yang merupakan pengusaha pemula dengan menggunakan mekanisme pembayaran kredit atau pembiayaan berdasarkan sistem tanggung renteng.

“Skema KUR khusus, diberikan kepada kelompok yang dikelola secara bersama dalam bentuk klaster dengan menggunakan mitra usaha untuk komoditas perkebunan rakyat, peternakan rakyat dan perikanan rakyat,  termasuk pengadaan kapal nelayan,” ungkap Leonardus Frediyanto, Rabu (20/12/2017).

Target penyaluran KUR 2018, beber Yanto, oleh pemerintah dinaikkan menjadi Rp120 triliun. Dari KSP Kopdit Obor Mas menargetkan penyaluran sebesar Rp150 miliar.

Manager KSP Kopdit Obor Mas Maumere, Leonardus Frediyanto (kiri). Foto: Ebed de Rosary

Kredit yang tidak mampu dibayar atau Non Performing Loan (NPL) oleh anggota KSP Kopdit Obor Mas, sebutnya, sebesar 3,3 persen, jauh di bawah syarat maksimal NPL sebesar 5 persen yang merupakan salah satu kriteria penilaian untuk dapat ditetapkan pemerintah sebagai lembaga penyalur KUR.

“Ini berkat dukungan dari anggota KSP Kopdit Obor Mas sendiri, berupa sikap displin dalam mengembalikan pinjaman kepada koperasi. Ini dapat dilihat dari besarnya NPL sebesar 3,3 persen yang masih jauh di bawah standar yang ditetapkan pemerintah,” ujar Leonardus Frediyanto.

Selasa (19/12/) kemarin, terang Yanto, sapaannya, Menteri Koperasi dan UKM RI didampingi Deputi Bidang Pembiayaan menyaksikan penyaluran perdana KUR oleh KSP Kopdit Obor Mas kepada 10 anggota koperasi di sektor pertanian, perkebunan dan perdagangan dengan total penyaluran senilai Rp350 Juta.

“Menteri Koperasi juga mengapresiasi atas beberapa terobosan perubahan yang telah dilakukan oleh pengurus, pengawas, dan karyawan KSP Kopdit Obor Mas dalam meningkatkan Iayanan yang Iebih baik kepada anggotanya, melalui penggunaan Mobil Kas Keliling dan penempatan ATM di beberapa lokasi strategis. lni merupakan langkah maju perubahan yang perlu terus dikembangkan,” sebutnya.

KSP Kopdit Obor Mas, sambung Yanto, mendapat Badan Hukum Koperasi pada 29 Oktober 1994 dengan nomor 716/BH/XIV/X/1994, dengan nama Kopdit Obor Mas. Saat ini usahanya telah berkembang pesat, tercatat sampai dengan 30 November 2017 jumlah anggota sebanyak 75.813 orang dengan aset senilai Rp575 milyar dan volume pinjaman senilai Rp307 Miliar.

“Capaian yang baik ini tentunya merupakan hasil kerja keras dan dedikasi dari para pendiri dan jajaran pengurus serta Pengawas KSP kopdit Obor Mas. Ini yang harus terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan,” pesannya.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Manengah RI, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, saat meresmikan penyaluran KUR di KSP Kopdit Obor Mas Selasa (19/12/2017) mengatakan, pada 2017 ini pemerintah telah menunjukkan keberpihakan kepada usaha mikro, kecil dan manengah untuk meningkatkan akses pada sumber pembiayaan.

Hal ini, sebut Puspayoga, terlihat dari target alokasi penyaluran KUR bertambah menjadi Rp110 triliun, dari sebelumnya Rp100 triliun. Demikian pula pemerintah menurunkan suku bunga KUR dari 12 persen efektif per tahun menjadi 9 persen per tahun.

“Realitasi KUR secara nasional per 30 November 2017 senilai Rp91,3 triliun atau 83 persen dari target KUR senilai Rp110 triliun, dengan jumlah debitur 4 juta lebih, yang direalisasikan melalui 38 lembaga penyalur,” ungkapnya.

Realisasi penyaluran KUR Provinsi NTT per 30 November 2017, beber Puspayoga, senilai Rp1,2 triliun yang disalurkan kepada 48.118 debitur.

Dalam upaya percepatan realisasi penyaluran KUR, Pemerintah melakukan berbagai upaya, di antaranya mengikutsertakan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dan Koperasi sebagai penyalur KUR.

“Pada 2018 Pemerintah semakin memperluas jangkauan KUR dengan melakukan penyempurnaan kebijakan, di antaranya penurunan besaran suku bunga KUR 2018 dari 9 persen menjadi 7 persen efektif per tahun,” pungkasnya.

Lihat juga...