Pemukiman Bagaikan Kubangan, Warga Kuala Jaya Harapkan Perbaikan

Editor: Satmoko

32
Salah satu warga melintas di lingkungan perumahan yang berada di dekat SDN 2 Bandar Agung yang terkena banjir rob. [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG – Puluhan tahun warga Dusun Kuala Jaya, Dusun Sumber Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan tinggal di wilayah yang menyerupai pulau. Sebagian wilayah dikelilingi ratusan hektar tambak tradisional, Sungai Way Sekampung dan pesisir pantai timur Lampung.

Menurut Depli Delsa (37) selaku warga Dusun Kuala Jaya sekaligus tenaga pengajar di SDN 2 Bandar Agung, wilayah tersebut kerap terisolir terutama saat musim hujan dengan adanya banjir kiriman dan banjir rob puncaknya pada bulan Desember.

Depli Delsa mengungkapkan, akibat banjir rob pengaruhnya sangat dirasakan bagi para guru dan siswa di SDN 2 Bandar Agung, tempatnya mengajar. Karena para siswa harus berangkat dan pulang sekolah dengan kondisi akses jalan yang sangat buruk. Bahkan menyerupai sungai pada saat musim hujan dan pada saat musim kemarau menyerupai kubangan.

Dri Afandi memperlihatkan tambak udang vaname yang terendam banjir rob sebagian terpaksa dipanen lebih awal. [Foto: Henk Widi]
Sebagian siswa yang melakukan aktivitas kegiatan belajar mengajar bahkan harus menggunakan perahu untuk berangkat dan pulang sekolah ketika terjangan banjir rob memasuki wilayah tersebut.

“Aktivitas belajar mengajar masih berlangsung normal seperti biasa karena air banjir rob tidak masuk ke dalam kelas. Namun halaman sekolah tergenang air puncaknya selalu terjadi saat siang. Beruntung selama ujian semester para siswa dipulangkan lebih cepat,” terang Depli Delsa, selaku warga Dusun Kuala Jaya Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi saat dikonfirmasi Cendana News di halaman SDN 2 Bandar Agung, Kamis (7/12/2017).

Depli Delsa yang juga selaku guru honorer, wakil ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Bandar Agung dan operator BPBD Lampung Selatan tersebut menyebut, siklus tahunan banjir pasang rob hanya merupakan salah satu bencana alam yang berpotensi besar. Selain itu ada banjir kiriman lain yang kerap terjadi umumnya pada bulan Januari hingga Februari. Akibatnya, warga yang tinggal di bantaran Sungai Way Sekampung terimbas banjir khususnya di Dusun Umbul Besar dan Dusun Kuala Jaya yang kerap terendam banjir.

Dri Afandi (40) salah satu pemilik lahan tambak seluas tiga hektar dengan sebanyak tiga petak mengaku pernah menebar 100.000 bibit. Terpaksa melakukan panen parsial pada lahan tambak miliknya yang mengalami puncak banjir rob sekitar pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Berimbas udang vaname dan ikan bandeng keluar dari tambak jika tidak segera dipanen. Selain itu akibat pasokan air dari laut dan sungai yang tidak sehat kerap mengakibatkan kematian akibat udang mengalami stres.

“Upaya kita melakukan panen lebih cepat, namun siklus ini selalu kita antisipasi dengan melakukan panen lebih awal dengan ukuran size 50 agar kami tidak merugi lebih besar,“ ujar Dri Afandi.

Dri Afandi menyebut, harapan terbesar warga di wilayah tersebut adalah akses jalan diperbaiki, terutama yang ada di Dusun Sumber Jaya yang merupakan kampung di antara Dusun Umbul Besar dan Dusun Kuala Jaya yang kerap mengalami kerusakan akibat hujan dan terendam banjir rob. Meski pernah mengalami perbaikan sejak tahun 2012 dengan jalan lapisan tipis aspal pasir, namun kini jalan kembali rusak akibat kerap tergenang air.

Dri Afandi bahkan menyebut pada beberapa titik pada ruas jalan sepanjang 5 kilometer dari Dusun Kuala Jaya ke Umbul Besar jalan masih dipenuhi lubang dan amblas. Sebagian menjadi kubangan air. Akibatnya, sebagian warga dan siswa sekolah harus terpaksa menggunakan perahu menyusuri perahu kelotok meski saat berangkat harus melawan arus sungai. Ia berharap, akses jalan di wilayah tersebut bisa diperbaiki sehingga warga bisa mempermudah akses kendaraan pengangkut hasil panen udang.

Dampak dari buruknya infrastruktur jalan, diakui petambak yang sudah 20 tahun memiliki usaha tambak tersebut, membuat petambak lebih memilih mengirim komoditas hasil tambak udang ke kabupaten Lampung Timur karena pemilik ekspedisi enggan memasuki wilayah tersebut dengan resiko kerusakan kendaraan akibat jalan buruk lebih tinggi.

“Petambak bahkan memilih mengirim ke kecamatan Pasir Sakti kabupaten Lampung Timur dengan moda transportasi perahu karena kendaraan ekspedisi bisa sampai di tepi sungai,” beber Dri Afandi.

Siswa SDN 2 Bandar Agung Kecamatan Sragi melakukan aktivitas berangkat dan pulang sekolah dengan akses jalan digenangi air banjir rob. [Foto: Henk Widi]
Secara ekonomi, dampak kerusakan akses jalan diakuinya membuat hasil udang petambak lebih banyak dikirim ke Lampung Timur. Meski secara faktual petambak banyak berada di wilayah Lampung Selatan. Ia menyebut, harga udang Windu size 30 dengan harga Rp120.000 sementara jenis udang vaname size 50 dengan harga Rp80.000. Ia menyebut pula, idealnya dengan adanya kendaraan pengangkut es hasil udang dari tambak cukup besar. Namun banyak dikirim melalui Lampung Timur sehingga pelaku bisnis di Lampung Timur lebih diuntungkan.

“Harapan kami perhatian ke wilayah kami harus lebih besar karena menjadi sentra pertambakan, sementara akses infrastuktur jalan sangat rusak dan kami menjadi wilayah terisolir,” bebernya.

Kondisi akses jalan yang sejajar dengan ketinggian tambak diakuinya membuat jalan yang kering bahkan bisa berubah menjadi kubangan air. Berisiko menyebabkan kerusakan pada tiang listrik. Infrastrukur jalan yang baik diharapkan bisa menghidupkan perekonomian warga yang bekerja sebagai nelayan dan petambak dengan lancarnya distribusi barang. Terutama kemudahan bagi kendaraan ekspedisi pengangkut hasil panen udang di wilayah tersebut.

Depli Delsa, guru honorer di SDN 2 Bandar Agung, sekaligus wakil ketua BPB desa Bandar Agung kecamatan Sragi Lampung Selatan. [Foto: Henk Widi]

Komentar