Pengungsi Rohingya Tak Percayai Janji Myanmar

COX’S BAZAR – Bangladesh dan Myanmar pada 23 November 2017 menyepakati pemulangan atau reptariasi pengungsi Rohingya. Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk segera memulai proses pemulangan warga Rohingnya yang melarikan diri ke Bangladesh.

Menyusul tekanan internasional, Myanmar sepakat akan memulihkan situasi di negara bagian Rakhine bagian utara dan mendorong pengungsi Rohingya kembali dengan sukarela dan selamat ke rumah mereka masing-masing. Ironisnya, Myanmar mengajukan syarat, hanya mau menerima pengungsi yang memiliki bukti pernah tinggal di negara itu.

Nyatanya, sebagian besar warga Rohingya kesulitan mendapatkan surat identitas di Myanmar karena sejak puluhan tahun silam diabaikan dan dicampakkan pemerintahnya sendiri. “Saya tidak percaya pemerintah Myanmar karena ini sudah menjadi sejarah yang panjang tentang kebohongan mereka, sejak Myanmar mendapat kemerdekaan pada tahun 1947,” kata salah satu pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Banglaesh, bernama Humidor, Senin (25/12/2017).

Humidor adalah pengungsi Rohingya yang mendapatkan gelar sarjana dari ilmu Islam dan Al Qur’an, serta sempat mengambil kursus pendek jurnalistik. Selama ini ia aktif menyuarakan nasib etnis Rohingya lewat blog.

Upaya repatriasi pengungsi Rohingya disebut Humidor, bukan hal yang tepat untuk dilakukan saat ini. Hal itu mempertimbangkan puncak kekerasan yang dilakukan Myarnmar terhadap etnis Rohingya di tahun ini. “Myanmar belum menyiapkan apa-apa, sementara pengungsi sudah tidak memiliki apa-apa. Apa fasilitas yang akan mereka berikan? Apakah lahan dan properti warga Rohingya akan diberikan kembali ke mereka? Ini belum selesai,” tandas Humidor.

Lihat juga...