Penjual Pakaian di Perbatasan Reguk Rp7 Juta Per Minggu

LONG BAGUN – Penjual pakaian keliling di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, sebuah kawasan perbatasan dengan Malaysia, keberadaannya masih efektif, terbukti tingkat penjualannya masih tinggi dengan keuntungan rata-rata mencapai Rp7 juta per pekan.

“Saya jualan pakaian di Mahulu ini sejak lima tahun lalu. Wilayah jualan saya mulai Kecamatan Long Bagun hingga ke arah hilir Sungai Mahakam, seperti Kecamatan Laham dan Long Hubung,” ujar Wahyudin (56), pedagang pakaian keliling saat ditemui Antara di Long Hubung, Senin.

Sedangkan untuk kawasan hulu Long Bagun, seperti Kecamatan Long Pahangai dan Kecamatan Long Apari, ia mengatakan sudah ada dua orang yang berjualan pakaian di kawasan tersebut, yang juga sama-sama perantauan dari Desa Tanjung Karya, Kecamatan Samarang, Garut, Jawa Barat.

Produk yang dijual Wahyudin umumnya jenis pakaian perempuan dan training dengan harga yang relatif terjangkau, yakni untuk celana training hanya dijual sekitar Rp50 ribu per potong, daster seharga Rp50 ribu per potong, dan baju atasan perempuan kisaran Rp35 ribu per potong.

Uniknya, barang-barang tersebut tidak ia datangkan dari Jawa Barat yang sudah terkenal dengan harga grosir yang relatif murah, namun lebih memilih belanja di pasar grosir di Samarinda.

Wahyudin telah memiliki langganan tetap di pasar grosir Samarinda, sehingga harganya bisa murah.

“Kalau saya hitung-hitung, belanja barang di Jawa dengan di Samarinda kurang lebih saja harganya, karena meski di Jawa lebih murah, namun harus dipotong biaya kirim dan urusannya juga panjang. Jadi, saya lebih pilih belanja di Samarinda saja, praktis,” ucap bapak beranak 10 dan memiliki 20 cucu ini.

Dari penjualan aneka pakaian perempuan ini, ia mengaku paling lama berada di Mahulu hanya satu pekan dan paling cepat empat hari, kemudian balik lagi ke Samarinda untuk belanja barang baru.

Selama 4-7 hari di Mahulu, keuntungan bersih yang diperoleh Wahyudin sekitar Rp7 juta.

Untuk pergi ke Mahulu dan balik ke Samarinda, ia lebih suka menggunakan angkutan kapal, karena bisa bersantai sambil menikmati pemandangan alam sepanjang perjalanan di atas Sungai Mahakam.

Waktu tempuh perjalanan cukup lama, yakni sekitar 56 jam saat ke hulu dan sekitar 27 jam saat hilir untuk rute Samarinda-Long Bagun atau sebaliknya.

Barang belanjaan yang ia bawa dari Samarinda antara 3-4 karung untuk masa penjualan 4-7 hari. Habis atau tidak barang yang dijual, ia harus tetap ke Samarinda dalam waktu satu pekan tersebut karena harus mencari barang model baru.

Sedangkan barang yang tersisa kembali dibawa ke Samarinda melalui kapal. Bahkan, ia juga membawa sepeda “ontel” tiap kali pulang pergi ke Samarinda.

Ketika sampai di Mahulu, sepeda itu dipasangi gerobak yang selalu setia menemaninya membawa barang jualannya.

“Saya punya dua gerobak di Mahulu, satu gerobak saya titip di Kecamatan Laham dan satu lagi di Long Bagun. Dua gerobak yang saya tinggal itu tanpa roda, karena rodanya saya copot dan saya bawa ke Samarinda. Nanti kalau siap berjualan baru rodanya saya pasang lagi,” tutur Wahyudin. (Ant)

Lihat juga...