Penyakit Busuk Buah Serang Kebun Kakao Sikka

MAUMERE —- Penyakit busuk buahmenyerang tanaman kakao di kabupaten Sikka sejak 2006 silam, hingga kini masih menyerang dan menjadi ancaman bagi para petani di Kabupaten Sikka.

“Pohon kakaonya sudah berusia tua dan kebunnya seperti hutan. Paling banyak penyakit busuk buah menyerang di kebun kakao yang tidak terawat,” tegas Ir. Hendrikus Blasius Sali, Senin (18/12/2017).

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka ini kepada Cendana News mengatakan,hama ini tidak menyerang di semua kecamatan penghasil kakao di Kabupaten Sikka. Saya tidak bisa identifikasi karena selama ini belum ada laporan.

“Kalau di wilayah timur Kabupaten Sikka memang betul masih banyak yang diserang penyakit ini karena kebunnya tidak terawat. Beda dengan di wilayah barat karena mindset atau pola pikir petaninya bisnis jadi perawatan kakaonya bagus,” tegasnya.

Kalau rawat asal hanya asal menunggu petik maka hasil produksinya jelek karena terserang hama.Hama ini memang menyebar karena seperti spora sehingga jatuh ke tanah dan berkembang. Salah satu jalan yakni memperbaiki sanitasi kebun.

Selain itu sering dipangkas dan kakao yang berumur tua di atas 30 tahun dan 40 tahun harus diganti atau peremajaan. Petani kakao seperti di Doreng itu sudah berulang kali dihimbau namun petani tidak melakukan apa yang disampaikan oleh petugas dari dinas Pertanian.

“Petani di Doreng sudah berulang-ulang bahkan tahun lalu juga kami himbau. Makanya saya tidak tanya petani begitu,saya paling malas.Kami banyak beli bibit dari Sulawesi dan bagi ke petani,” tuturnya.

Di wilayah timur ada beberapa petani kakao yang bagus sebut Hengky seperti di Rubit.Hanya yang lainnya meski dibicarakan sampai mulut berbusa juga tidak diindahkan.Memangnya itu kebun milik pegawai dinas Pertanian?.

Albert Parera salah seorang petani di desa Nebe kecamatan Talibura mengatakan,memang sejak adanya hama penyakit busuk buah yang menyerang tanaman kakao sejak sekitar tahun 2006 hasil produksi kakao menurun drastis.

“Dulu dari sekitar 2 ton per hektare setahun turun drastis hingga 300 sampai 440 kilogram per hektarenya sehingga banyak petani sudah tidak tanam kakao lagi,” sebutnya.

Ditambahkan Albert,berbagai cara telah dilakukan para petani baik dengan menyemprot pestisida maupun memangkas pohon kakao. Namun hasilnya tetap sama sehingga petani malas mengurus kebun kakao.

“Sekarang ini banyak kebun kakao yang dibiarkan begitu saja oleh petani dan tidak dirawat. Para petani lebih suka mengurus kebun kelapa maupun mente yang lebih mudah mendatangkan uang,” ujarnya.

Para petani sudah tidak terlalu berharap kepada kakao sebab meski sudah disemprot pestisida, namun hama penyakit busuk buah tersebut kembali menyerang kembali. Paling lama sebulan hama kembali menyerang lagi.

“Hamanya mudah sekali berpindah dari satu areal ke areal lainnya sama seperti kutu loncat. Hama ini sulit sekali dibasmi yang sampai saat ini pun masih sering ada,” terangnya.

Kepala dinas Pertanian Kabupaten Sikka Ir. Hendrikus Blasius Sali- Foto : Ebed de Rosary
Lihat juga...