Perajin Kendang Ponorogo Beromzet Rp60 Juta/Bulan

PONOROGO – Kendang yang dikenal sebagai salah satu alat musik paling dominan dalam pertunjukkan seni reog, ternyata masih diminati pasar.

Mukri (53), mengaku dalam satu bulan mampu memproduksi 30 kendang dan selalu habis terjual. Warga Desa Ngilo-ilo, Kecamatan Slahung, Ponorogo ini mengatakan, pesanan datang dari dalam kota Ponorogo, Jakarta juga Sumatera.

Kendang buatannya memang dikenal bagus oleh pelanggannya. Banyak penabuh kendang memilih memesan kendang langsung dari dirinya. “Meski rumah saya ada di pegunungan dan pelosok, banyak pemesan yang datang,” jelasnya kepada Cendana News, Selasa (12/12/2017).

Mukri mengaku menggunakan kayu nangka, trembesi dan mangga sebagai bahan baku membuat kendang. Ketiga kayu ini dinilai menghasilkan suara yang bagus. “Terutama kayu nangka, paling bagus dan mahal,” ujarnya.

Mukri juga memilih mendatangkan bahan baku dari Kecamatan Ngebel, Pacitan dan Magetan, karena ketersediaan kayu saat ini semakin langka, sehingga membuat Mukri harus mencari kayu dari berbagai daerah. “Kayu nangka yang bisa digunakan pun harus kayu hidup, ini yang susah,” terangnya.

Bapak dua orang anak ini menambahkan dirinya memproduksi berbagai jenis kendang, mulai dari kendang untuk reog, campursari, cibon, sabet, bem dan tipung. Ia juga memproduksi eblek atau kuda lumping.

Mukri menceritakan proses pembuatan kendangnya. Pertama, kayu yang akan digunakan untuk kendang dilubangi, ini sudah ada satu orang yang bertugas melubangi kayu, kemudian kayu dijemur hingga kering, setelah itu diplitur dan dipasangi kulit lembu sebagai penghasil suara kendang.

“Pengeringan butuh waktu tiga hingga lima hari, kalau musim penghujan bisa satu minggu,” imbuhnya.

Satu kendang yang diproduksi Mukri lengkap dengan ukiran dibanderol mulai harga Rp1,5-2,5 juta. Dalam satu bulan, Mukri mampu meraup omzet sebesar Rp60 juta. “Pesanan selalu ada, paling banyak dari Ponorogo untuk mengiringi reog,” pungkasnya.

Lihat juga...