Perajin Mebel Lokal Tergencet Mebel Custom

BANJARMASIN – Tren penjualan mebel lokal di Kota Banjarmasin kian merosot seiring meningkatnya minat masyarakat menggunakan produk mebel custom dengan desain simpel, seperti buatan Olimpic.

Kondisi semacam ini membuat pebisnis dan perajin mebel lokal sempoyongan menjual produknya. Salah satunya Kursani, pelaku usaha mebel lokal di kawasan Kampung Melayu, Kota Banjarmasin. Kursani menuturkan omset usahanya terus menyusut karena gempuran produk mebel portable di Banjarmasin.

“Dibanding lima tahun lalu, mungkin turunnya tembus diangka 40 persen. Saya pun harus mengurangi jumlah produksi mebel yang dibuat,” kata Kursani kepada Cendana News, Senin (11/12/2017).

Menurut dia, mebel lokal kalah bersaing karena desain kurang menarik dan tidak mengikuti tren selera konsumen. Sebab, kata Kursani, desain mebel buatan pabrik jauh lebih menarik, murah, dan menyesuaikan selera masyarakat.

Tapi, ia mengingatkaan kualitas mebel lokal jauh di atas mebel custom. Mebel custom biasanya mudah rusak dan memiliki daya tahan kurang dari satu tahun. “Berbeda dengan mebel lokal yang bisa tahan bertahun-tahun,” tegasnya.

Selain itu, Kursani mengeluhkan seretnya pasokan bahan baku kayu berkualitas untuk perajin mebel lokal. Ia kesulitan mendapat kayu meranti dan sungkai yang biasa bahan utama membuat mebel. Kalaupun ada, harganya lebih mahal 30 persen dari harga pasaran.

Padahal, dia tak bisa serta merta menaikkan harga mebel lokal di tengah persaingan ketat. Dengan harga saat ini saja, Kursani mengeluh penjualan sudah sepi. “Jadi agar bisa bertahan, tetap kita jual dengan harga lama, walau pun margin keuntungan berkurang,” ucap Kursani.

Adapun pemilik Toko Mebel Rahmad, Hj Lani, mengakui sulitnya menjual mebel lokal. Bahkan saat musim pernikahan sekalipun, penjualan mebel lokal belum menggemberikan. Kalaupun ada kenaikan penjualan paling banter cuma 10 persen.

“Berbeda sekali 5 tahun silam, kenaikannya bisa mencapai 50-70 persen. Karena biasanya saat musim pernikahan, pasangan pengantin baru pasti membeli mebel untuk rumah baru,” ujar Lani.

Pedagang mebel lokal hanya fokus menjual tiga jenis mebel, yakni ranjang yang dijual dari Rp 350 ribu – Rp 1 juta, lemari hias dan pakaian mulai Rp 650 ribu – Rp 1 juta, dan lemari televisi mulai Rp 200 ribu – Rp 500 ribu.

“Biasanya ketiga itu saja yang paling laku pada musim pernikahan, makanya kami perbanyak stoknya. Namun hingga Desember ini penjualannya masih tidak sesuai harapan, padahal sudah mendekati awal tahun,” kata dia.

Andre Azhar, pebisnis furniture Costum di Banjarmasin, menguatkan keterangan kedua pebisnis mebel lokal tersebut. Andre mengakui tingginya permintaan mebel costum di Banjarmasin. Menurut dia, mebel custom diminati kantoraan dan rumah tangga karena simpel dan harga miring. Apalagi konsumen bisa memesan furniture custom sesuai selera.

“Kalau beli di pasaran, desainnya standar dan tidak bisa menyesuaikan keadaan hunian atau kantor,” kata Andre.

Lihat juga...