Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Stagnan

Editor: Koko Triarko

54

JAKARTA – Direktur Instutite For Development of Economic and Financial (INDEF), Enny Sri Hartati, mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tiga tahun terakhir ini stagnan di angka 5 persen.

Jadi, ungkap Enny, negara ASEAN lainnya seperti, Malaysia, Thailand, Singapura, Taiwan, Korea selatan,  dan Vietnam, trennya naik terus kalau dibandingkan pada triwulan 1-3 2017. Bahkan, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan sudah mencicipi growth double digit, sehingga mereka maju.

Namun, lanjut dia, fakta menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 tertinggal dari Vietnam yang mencapai 6,2 persen.

Pertumbuhan ekonomi Vietnam pada 2017 ini juga meningkat jauh dari prediksi lembaga ekonomi internasional seperti Bank Pembangunan Asia (ADB) yang mematok di angka 6 persen.

Baca: INDEF Pastikan Inflasi 2017 di Bawah 4 Persen

Vietnam menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2017 sebesar 6,7 persen. Hingga kuartal III 2017, justru meleset lebih tinggi dari target, yakni 7,46 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 6,28 persen pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Vietnam merupakan tertinggi di dunia.

Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 dipatok sebesar 5,1 persen, dan APBN 2017 mematok 5,2 persen. Jika dibandingkan dengan negara tetangga, Filipina, Indonesia juga masih tertinggal. Pada kuartal III 2017, Filipina berhasil tumbuh 6,9 persen lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi China yang sebesar 6,8 persen.

“Jadi, semua trennya naik, hanya Indonesia saja yang stagnan 5 persen. Kita jangan terlalu puas dengan target growth 5,2 persen. Kita harus bisa berlari lebih kencang,” kata Enny, dalam diskusi ‘Pertumbuhan Ekonomi Stagnan 5 Persen, Indonesia Tetinggal Negara Tetangga’ di Alun Graha, Jakarta, Kamis (7/12/2017).

Memang, kata dia, dari satu sisi kita patut  mengapresiasi. Karena  pertumbuhan ekonomi di negara G20, Indonesia masuk urutan ke-3. “Tapi, persoalannya, apakah pertumbuhan 5 persen itu mencukupi kebutuhan masyarakat?” tanya ekonom, ini.

Enny pun mengilustrasikan. Ketika kita memberikan uang jajan kepada siswa TK sebesar Rp10 ribu, nilai itu sangat besar pastinya. Tapi, untuk seorang mahasiswa tentu angka itu sangat kecil.

Menurutnya, yang menjadi persoalan dengan penduduk Indonesia sekitar 260 juta dengan rata-rata angkatan kerja sekitar 2 juta. Maka, kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5 persen dan elastisitas 1 persen, itu hanya mampu menampung kurang dari 200 ribu tenaga kerja baru. Maka, kalau 5 persen hanya 1 juta yang terserap di dalam pertumbuhan ekonomi.

Di samping itu, kalau melihat kebutuhan lapangan kerja yang bisa menjadi ukuran adalah bekerja sesuai dengan standar. Normalnya, kalau orang bekerja kurang dari 35 jam per minggu, itu besar kemungkinan tidak memadai untuk bisa mencukupi kebutuhan pokok.

Jika melihat hal itu, maka tenaga kerja Indonesia yang kerja kurang dari 35 jam per minggu itu lebih dari 15 persen. Ini dikategorikan pengangguran. Sekali pun, kata Enny, dengan angka pengangguran terbuka pemerintah selalu bangga dari angka 5 persennya juga.

Tetapi, angka pengangguran terbuka oleh BPS, mereka bekerja satu jam per minggu saja sudah termasuk pengangguran. Ini yang jadi problem.

Artinya, kata Enny, sekali pun pengangguran itu relatif rendah hanya 5 persen, tapi ini tidak bisa menopang kebutuhan pokok yang berkaitan dengan daya beli.

Sedangkan struktur usaha itu ada yang informal dan nonformal. Yang informal itu ada berbagai jaminan yang meng-cover tenaga kerja untuk bisa punya daya beli. Tapi, Maret 2017, sektor informal turun dan berdampak pada berlangsungan pertumbuhan ekonomi.

Inilah, menurut dia,  satu penyebab mengapa ekonomi Indonesia hanya tumbuh di 5 persen. Sementara potensial seperti yang ditargetkan pemerintah semestinya pada 2017 sebesar 5,2 persen.

“Nah, kalau sekarang bisa berhasil 5,2 persen. Target 5,4 persen di 2018 kemungkinan bisa tercapai,” kata Enny.

Motor penggerak lainnya, sebut dia, yang tumbuh sekarang ini mayoritas didominasi oleh sektor nonkredibel, terutama yang tumbuhnya cukup pesat adalah perdagangan yang tenaga kerjanya sudah 15 persen.

Sektor perdagangan sekitar 58 persen itu di sektor informal, termasuk yang jualan sate bisa masuk ke sektor perdagangan. Sehingga ini terkadang seperti ada anomali. Artinya, ekonomi memang tetap tumbuh tidak negatif. Karena kemarin ada polemik daya beli naik. Itu kalau data statistik sepanjang tidak minus memang bukan turun. Pertumbuhan turun itu kalau minus. Tapi, konsumsi rumah tangga  4,93 persen pada 2017.

“Berarti memang sudah turun,  wong tumbuh 4,93 persen dikatakan turun. Dan, kami menyakini ada penurunan daya beli,” pungkasnya.

Komentar