Pesantren jadi Sasaran Kebiadaban PKI

JAKARTA – Banyak pesantren yang dulu menjadi sasaran kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI). Para ulama yang menjadi pengasuh pesantren pun disiksa dan kemudian dikubur hidup-hidup di dalam sumur.

“Nama-nama ulama dapat kita baca di tembok monumen di sumur tua penyiksaan PKI,“ kata Dr. Sulistyowati, S.H., M.H., Koordinator Tim Advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah (YMPS), kepada Cendana News, di Ruang Asmara Nababan, Gedung Komnas HAM, jalan Latuharhari No.4B, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.

Sulistyowati menerangkan, di antara  nama ulama yang tercatat di monumen tersebut tertulis KH. Imam Shofwan, Pengasuh Pondok Pesantren Thoriqussu’ada, Rejosari, Madiun.

“KH. Imam Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tua tersebut setelah disiksa berkali-kali, bahkan ketika beliau dimasukkan ke dalam sumur, KH. Imam Shofwan sempat memgumandangkan adzan“, terang Sulistyowati.

Menurut Sulistyowati, begitu pula dua putra KH. Imam Shofwan, yaitu Kyai Zhuber dan Kyai Bawani juga menjadi korban pembantaian PKI. “Kedua anak itu dikubur hidup-hidup bersama KH. Imam Shofwan di sumur tersebut,“ paparnya.

Sulistyowati menyampaikan, selain beberapa nama tersebut, korban kekejaman PKI di Madiun adalah Keluarga Pesantren Sabili Muttaqin (PSM). Mereka adalah guru Hadi Addaba dan Imam Faham dari PSM, Takeran. Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, paman dari mantan ketua DPR RI, M.Haris Suhud.

“Kami para advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah (YMPS) memerintahkan Komnas HAM untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana hukum yang berlaku,“ tegasnya.

Pihaknya juga memerintahkan Komnas HAM untuk menegakkan sapta marga terhadap setiap orang, kelompok dan organisasi yang menyebarkan paham Komunis-Marxis-Leninis yang mengancam Negara Republik Indonesia.

Lihat juga...